Dari sekitar 30 sungai yang ada di Semarang, pengerukan diminta diprioritaskan pada aliran yang kerap meluap dan tidak mampu menampung debit air saat hujan deras.
“Informasi dari DPU, dari 30-an sungai baru sekitar lima yang dikerjakan. Padahal ini sudah pertengahan Oktober dan sebentar lagi masuk November. Sungai-sungai yang langganan meluap dan tidak mampu menampung air harus diprioritaskan dulu,” jelasnya.
Kinerja stasiun pompa air juga menjadi perhatian DPRD. Pilus menyebut, berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, genangan yang bertahan lama kerap berkaitan dengan pengoperasian pompa yang belum optimal.
Karena itu, evaluasi terhadap fungsi pompa perlu dilakukan agar penanganan banjir dapat berjalan lebih efektif.
Pembenahan drainase di sejumlah titik, termasuk kawasan Simpang Lima, juga terus menjadi perhatian untuk mencegah terulangnya banjir seperti tahun lalu. Upaya tersebut perlu disertai pemantauan kondisi infrastruktur secara berkala, terutama menjelang meningkatnya intensitas hujan.
Pilus menegaskan, penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan DPU maupun Dinkes. Seluruh OPD perlu bekerja secara terpadu agar langkah pencegahan dan penanganan di lapangan berjalan selaras.
Ia juga mengingatkan pentingnya komunikasi antarlembaga supaya tidak muncul kendala akibat koordinasi yang lemah ketika situasi darurat terjadi.
“Bencana ini bukan hanya urusan DPU. Hampir semua dinas harus berkolaborasi. Kerap kali kendala di lapangan itu bukan karena lempar tanggung jawab, tetapi karena minimnya koordinasi. Evaluasi kekurangan tahun lalu harus diperbaiki agar penanganan banjir tahun ini jauh lebih baik,” tandasnya. (*)