Peluk Korban Banjir Mangkang Kulon, Ahmad Luthfi Janji Percepat Normalisasi Sungai Plumbon
KONTENSEMARANG.COM – Duka mendalam masih dirasakan Muhammad Zaenuddin (36), warga Kelurahan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, usai kehilangan ibundanya, Maryam (70), yang meninggal dunia akibat terseret arus deras Sungai Plumbon beberapa hari lalu.
Saat meninjau penanganan pascabanjir di kawasan tersebut pada 19 Mei 2026, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada Zaenuddin.
Dalam kesempatan itu, Ahmad Luthfi memeluk Zaenuddin sebagai bentuk empati atas musibah yang dialaminya.
Namun, peristiwa tragis yang merenggut nyawa sang ibu masih membekas di ingatan Zaenuddin.
Malam itu, Jumat 15 Mei 2026 sekitar pukul 19.00 WIB, hujan deras membuat debit Sungai Plumbon meningkat drastis.
Meski sudah bersiaga karena rumahnya berada di bantaran sungai, bencana datang lebih cepat dari perkiraan.
Tanggul sungai mendadak jebol dan banjir setinggi sekitar 120 sentimeter menerjang permukiman dengan arus deras. Saat kejadian, Maryam tengah berada di depan rumah.
"Ibu saya hanyut. Lah cucunya niat mau menolong, ikut hanyut sekalian," kenang Zaenuddin dengan suara tercekat.
Cucu Maryam berhasil menyelamatkan diri, sementara Maryam terseret arus hingga ratusan meter.
Pencarian dilakukan sepanjang malam oleh keluarga dan warga, namun jasad Maryam baru ditemukan keesokan harinya dalam kondisi meninggal dunia.
Banjir sebenarnya bukan hal baru bagi warga Mangkang Kulon. Akan tetapi, bencana kali ini meninggalkan luka lebih mendalam karena menelan korban jiwa.
Zaenuddin berharap pemerintah segera melakukan normalisasi Sungai Plumbon agar kejadian serupa tidak terulang.
“Cukup ibu saya saya yang jadi korban. Jangan ada korban selanjutnya,” pintanya.
Hal serupa juga dirasakan Ilma Susipa (40), warga terdampak lainnya. Ia mengaku trauma setiap kali hujan turun karena khawatir banjir kembali datang.
"Hidup enggak tenang. Kalau hujan sedikit, banjir. Banjir yang ditakutkan sama warga sini kalau tanggulnya jebol gitu. Soalnya dari dulu keseringan banjir sini," ungkap Ilma.
Saat banjir terjadi, Ilma harus menghadapi situasi mencekam bersama anak-anaknya karena sang suami sedang bekerja.
Air sempat menggenangi kamar mandi rumahnya hingga setinggi lutut dan sejumlah instalasi pipa hanyut terbawa arus.
Selain kerusakan rumah, warga kini juga menghadapi ancaman gangguan kesehatan akibat kondisi sanitasi yang memburuk.
Ilma mengaku mengalami gatal-gatal dan sakit perut setelah banjir melanda kawasan tersebut.
Meski bantuan logistik dan layanan kesehatan gratis telah diberikan, warga berharap solusi permanen segera direalisasikan.
"Mohon Sungai Plumbon untuk bisa segera dinormalisasi," pintanya.
Menanggapi keluhan warga, Ahmad Luthfi memastikan penanganan darurat pascabanjir dilakukan sesuai prosedur dan melibatkan berbagai instansi terkait.
"Misalnya hari ini kita menangani di Sungai Plumbon. Dinas Kesehatan main terkait pengobatan warga, Dinas Ketahanan Pangan main dengan cadangan pangannya, dan Dinas PU main dengan perawatan infrastrukturnya," jelas Ahmad Luthfi.
Ia juga berharap kehadiran BNPB dapat mempercepat penanganan infrastruktur Sungai Plumbon secara menyeluruh.
"Semoga tidak ada bencana lagi ke wilayah kita, dan semoga kedatangan BNPB bisa memberikan suatu penanganan yang lebih komprehensif," kata Luthfi.
Usai meninjau lokasi, Ahmad Luthfi bersama Sekda Jateng Sumarno menggelar rapat terbatas dengan BNPB, BBWS Pamali-Juana, dan Pemkot Semarang untuk membahas langkah lanjutan penanganan banjir.
Dalam rapat tersebut diputuskan normalisasi Sungai Plumbon segera dilakukan. Selain itu, proses pembebasan lahan dan pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak juga mulai dihitung.
BNPB turut menyalurkan bantuan senilai Rp324.223.000 untuk penanganan bencana tersebut. (*)
redaksi