KONTENSEMARANG.COM – Universitas Semarang (USM) menggelar Seminar Wawasan Kebangsaan bertema “Peran Pancasila di Tengah Dinamika Bangsa: Antara Kebebasan Berpendapat dan Persatuan” di Auditorium Ir. Widjatmoko, Selasa (20/10/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pengkajian Ideologi Bangsa (PIB) USM ini bertujuan memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai nilai-nilai Pancasila serta pentingnya menjaga persatuan di tengah perkembangan demokrasi dan ruang digital.
Seminar tersebut dihadiri Wakil Rektor I USM Prof Dr Ir Haslina MSi, Direktur Kemahasiswaan Dr Soiful Hadi ST MKom, serta Pembina UKM Pengawal Ideologi Bangsa sekaligus Ketua UPNS Wawasan Kebangsaan USM, Dr Tri Mulyani SPd SH MH.
Dua narasumber yang dihadirkan adalah Mayjen TNI (Purn.) Supriyatna dari Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) dan Setiawan Hendra Kelana SKom, Komisioner Bidang Penyelesaian Sengketa Informasi Komisi Informasi Provinsi Jawa Tengah.
Kegiatan ini diikuti sekitar 500 peserta secara langsung dan 1.000 peserta secara daring melalui Zoom Meeting.
Wakil Rektor I USM, Prof Dr Ir Haslina MSi, berharap seminar tersebut dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa agar mampu menyampaikan pendapat secara kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab, khususnya di ruang digital.
”Seminar Wawasan Kebangsaan merupakan agenda kebangsaan yang ditujukan bagi mahasiswa USM, baik yang hadir langsung di auditorium maupun yang bergabung secara daring. Panitia memprioritaskan mahasiswa semester 5 ke atas yang dibuktikan dengan Kartu Rencana Studi (KRS)”, ujar Prof Haslina.
Dalam sambutannya, Dr Tri Mulyani SPd SH MH menegaskan bahwa kebebasan berpendapat merupakan hak konstitusional setiap warga negara. Namun, pelaksanaannya harus disertai tanggung jawab untuk menjaga persatuan dan menghormati perbedaan di tengah masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa pesatnya perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi membawa tantangan tersendiri bagi kehidupan berbangsa.
Perbedaan antara kritik yang membangun dan ujaran kebencian terkadang sulit dibedakan sehingga dapat memicu perpecahan serta polarisasi di masyarakat.