“Kebebasan adalah hak, tetapi persatuan merupakan kewajiban moral yang harus kita jaga. Pendapat boleh berbeda dan warna politik boleh beragam, tetapi Merah Putih kita tetap satu,” ujarnya.
Sementara itu, Mayjen TNI (Purn.) Supriyatna menekankan pentingnya wawasan kebangsaan bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama mahasiswa yang memiliki peran strategis di lingkungan akademik maupun dunia digital.
Sebagai generasi penerus bangsa, mahasiswa dinilai memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan persatuan dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Ia secara khusus mengingatkan pentingnya mengamalkan sila ketiga Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia, dengan mendahulukan kepentingan bangsa dan masyarakat luas daripada kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Mahasiswa itu posisinya strategis. Mereka aktif di dunia akademik dan dunia digital, sehingga memiliki peran penting dalam menjaga persatuan,” ungkapnya.
Supriyatna juga mengapresiasi pelaksanaan seminar wawasan kebangsaan di USM. Ia berharap kegiatan sejenis dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan agar pemahaman mahasiswa terhadap Pancasila dan nilai-nilai kebangsaan semakin kuat.
Narasumber lainnya, Setiawan Hendra Kelana S.Kom., menyoroti pentingnya menumbuhkan kesadaran kebangsaan melalui kontribusi nyata kepada negara.
Menurutnya, kecintaan terhadap bangsa tidak cukup diwujudkan dengan menyampaikan tuntutan kepada pemerintah, tetapi juga perlu dibuktikan melalui tindakan positif sesuai kemampuan dan peran setiap individu.
Ia turut mengapresiasi USM yang secara konsisten mengadakan seminar wawasan kebangsaan sebagai salah satu upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada mahasiswa.
“Mahasiswa bisa menjadi mahasiswa yang kritis, tetapi juga solutif. Kita harus menyadari bahwa bukan hanya menuntut bangsa ini memberikan sesuatu kepada kita, tetapi juga memikirkan apa yang bisa kita berikan kepada bangsa ini,” jelasnya.