Pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga mencakup penanaman etika dan sikap menghormati sesama.
Taj Yasin juga mengingatkan bahwa tradisi keilmuan harus dijaga secara berkelanjutan. Menurutnya, pengajian tidak cukup dilaksanakan dalam satu kesempatan, melainkan perlu diteruskan agar peserta memiliki waktu untuk mendalami materi yang dipelajari.
Ia berharap kajian kitab tersebut dapat dilanjutkan di masjid milik Pemprov Jawa Tengah dengan melibatkan takmir masjid dan berbagai pihak terkait.
“Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim yang berjumlah 110 halaman tidak mungkin diselesaikan pada hari ini saja. Maka memang ilmu itu harus berkesinambungan,” ujarnya.
Wakil gubernur yang akrab disapa Gus Yasin itu turut menegaskan pentingnya menghormati ulama dan menghargai ilmu pengetahuan.
Ia berharap kegiatan pengajian dapat menjadi sarana pembinaan spiritual bagi ASN maupun masyarakat, sekaligus memperkuat komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik kepada publik.
Pemprov Jateng sendiri menyiapkan rangkaian kegiatan peringatan Hari Santri selama sepekan, yakni pada 15–22 Oktober 2026.
Berbagai agenda disusun dengan melibatkan pondok pesantren, satuan pendidikan, dan masyarakat di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Tegal dan Pemalang.
Di Kabupaten Pemalang, kegiatan yang direncanakan antara lain membersihkan lingkungan pondok pesantren melalui tradisi ro’an atau kerja bakti.
Selain itu, terdapat program Santri dan Pesantren Sehat yang menghadirkan layanan Cek Kesehatan Gratis, Dokter Spesialis Keliling (Speling), serta edukasi mengenai pola hidup bersih dan sehat.