Salah satu rencana yang tengah didorong adalah menggabungkan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari perguruan tinggi umum dengan program pengabdian mahasiswa Ma’had Aly.
Melalui kolaborasi ini, mahasiswa diharapkan dapat bertemu di lokasi pengabdian, bertukar gagasan, serta bersama-sama mengidentifikasi kebutuhan masyarakat setempat.
“Kami ingin memadukan, ingin mengajak kolaborasi. Nanti KKN dari kampus umum dan KKN dari Ma’had Aly bisa kita gabungkan. Mungkin nanti satu bertemu di daerah yang dibutuhkan, mereka bisa berdiskusi di sana,” ujarnya.
Taj Yasin menambahkan, penetapan penerima beasiswa dilakukan dengan memperhatikan kondisi ekonomi dan prestasi akademik.
Pertimbangan tersebut diharapkan memastikan bantuan diberikan kepada mahasiswa yang membutuhkan sekaligus memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan hingga selesai.
Dampak bantuan pendidikan ini dirasakan Alaika Hilma, mahasantri semester enam Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an (MAYQ) Kudus, jurusan Ulumul Qur’an, Fakultas Ushuluddin.
Sebelum mendapatkan beasiswa, ia harus mengambil pekerjaan lepas atau freelance untuk membantu membayar kebutuhan kuliah.
Bagi Alaika, bantuan dari Pemprov Jawa Tengah tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga mengurangi beban pikiran terkait biaya pendidikan. Dengan demikian, ia dapat lebih berkonsentrasi menjalani perkuliahan dan menyelesaikan studinya.
“Dengan adanya program ini saya sangat-sangat terbantu dari permasalahan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Belajar juga makin fokus dan perkuliahan lebih maksimal lagi,” ujarnya.
Alaika mengungkapkan, proses pendaftaran beasiswa di Ma’had Aly Yanbu’ul Qur’an berlangsung lancar karena pihak lembaga membantu pengurusan dokumen persyaratan. Dari lembaga pendidikan tersebut, sebanyak 13 mahasantri berhasil lolos sebagai penerima bantuan.