Manfaat program serupa juga dirasakan Silvi Dyah Oktaviani, mahasiswa semester lima UIN Sunan Kudus yang berasal dari Demak. Di luar aktivitas perkuliahan, ia tinggal di Pondok Pesantren Bustanul Furqon Asy-Syafi’iyyah di Kudus, sebuah pesantren yang menjadi tempat tinggal mahasiswa.
Selain mengikuti kegiatan akademik, Silvi aktif berorganisasi di kampus dan menjalani kegiatan keagamaan di pesantren. Aktivitas mengaji selepas Magrib hingga sekitar pukul 21.00 WIB menjadi bagian dari rutinitasnya sehari-hari.
Di tengah kesibukan tersebut, Silvi tetap harus memperhitungkan kebutuhan pendidikan dan biaya hidup. Selama ini, kebutuhan hariannya masih mendapat dukungan dari orang tua.
Kondisi itu mendorongnya mencari bantuan pendidikan hingga akhirnya mengetahui program beasiswa Santri Penggerak.
“Saya memang lagi cari beasiswa buat pendukung pendidikan saya agar lebih semangat. Kebetulan saya juga berada di pondok pesantren,” kata Silvi.
Menurut Silvi, program tersebut dapat membantu mahasiswa yang menjalani pendidikan di perguruan tinggi sekaligus memperdalam ilmu agama di pesantren. Bantuan itu juga menjadi motivasi untuk terus meningkatkan semangat belajar di kedua lingkungan pendidikan tersebut.
“Menurut saya ini merupakan terobosan baru agar santri-santri sekaligus mahasiswa lebih semangat dalam belajar, menimba ilmu di universitas masing-masing ataupun di Ma’had Aly. Secara keuangan sangat membantu,” ujarnya.
Melalui program ini, setiap penerima mendapatkan bantuan biaya pendidikan sebesar Rp1 juta per semester selama enam semester.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berharap dukungan tersebut dapat membantu mahasiswa dan mahasantri mempertahankan keberlanjutan studi, meningkatkan kemampuan akademik, serta memperluas kontribusi mereka bagi masyarakat. (*)