Meski masih relatif terkendali, ia menyebut stabilitas harga pangan tetap menghadapi sejumlah tantangan. Faktor yang perlu diwaspadai antara lain fenomena El Nino, serangan hama tikus, biaya distribusi, serta kenaikan permintaan pada periode tertentu.
“Gerakan Pangan Murah seperti yang kita laksanakan hari ini, apalagi serentak, harapannya bisa mengendalikan inflasi secara keseluruhan di Jawa Tengah,” katanya.
Untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah terus mendorong penguatan produksi serta distribusi pangan.
Langkah yang dilakukan mencakup perbaikan jaringan irigasi, pemasangan pompa air, pengendalian hama, kerja sama antardaerah, hingga penguatan peran PT Jateng Agro Berdikari.
Manfaat GPM juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Salah seorang warga, Purwati, mengatakan harga sejumlah kebutuhan pokok yang dijual dalam kegiatan tersebut lebih murah dibandingkan harga di warung.
Ia mencontohkan bawang merah yang dibanderol Rp24.000 per kilogram, sementara di warung harganya mencapai Rp28.000 per kilogram.
Harga gula pasir juga lebih terjangkau, yakni Rp16.000 per kilogram dibandingkan harga yang biasa ditemuinya sebesar Rp18.000 per kilogram. Sementara itu, minyak goreng dijual Rp31.000 per dua liter dan telur ayam seharga Rp20.000 per kilogram.
Warga lainnya, Maryam, turut mengapresiasi pelaksanaan pasar murah karena dinilai membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia berharap kegiatan serupa dapat lebih sering digelar agar masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan membeli bahan pokok dengan harga yang terjangkau.
"Ya, alhamdulillah sangat terbantu. Mudah-mudahan sering ada ya di sini. Terima kasih Bapak Presiden, terima kasih Bapak Gubernur. Sering-sering mengadakan pasar seperti ini, sangat-sangat membantu," ungkapnya.
Maryam menambahkan, harga sejumlah bahan pangan di GPM lebih rendah daripada harga yang biasa ditemukan di pasar.