Di Timbulsloko, penerapannya dikombinasikan dengan guludan dan struktur bambu sebagai bagian dari pengembangan kawasan percontohan perlindungan pesisir.
Area mangrove yang dikembangkan mencapai 6,56 hektare, dengan penanaman awal dilakukan di lahan seluas 1.200 meter persegi.
Keberhasilan penerapan teknologi tersebut akan dinilai melalui pemantauan pertumbuhan mangrove, proses sedimentasi, kinerja struktur, serta manfaat yang dirasakan masyarakat sekitar.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan AHY menerangkan, keberadaan mangrove memiliki peran penting dalam mengurangi energi gelombang laut sehingga dapat membantu menekan risiko abrasi di wilayah pantai.
Selain mendukung perlindungan lingkungan, teknologi HexBricks juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi warga. Pasalnya, modul yang digunakan dalam teknologi tersebut diproduksi oleh masyarakat setempat.
“Ini juga berarti membuka lapangan kerja dan menghadirkan penghasilan untuk masyarakat yang ada di pesisir,” jelasnya.
AHY menambahkan, strategi perlindungan Pantura akan dilakukan melalui pendekatan hibrida dengan menggabungkan pembangunan infrastruktur fisik, seperti tanggul pantai dan tanggul laut, serta solusi berbasis alam.
Kombinasi tersebut dinilai penting untuk menghadapi kenaikan permukaan air laut dan penurunan muka tanah yang mengancam permukiman serta kegiatan ekonomi masyarakat pesisir.
Sementara itu, Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf menyebut kawasan Timbulsloko sebagai lokasi percontohan untuk mengkaji penerapan metode perlindungan pesisir yang disesuaikan dengan kondisi alam di masing-masing daerah.
“Di tempat lain belum tentu dilakukan seperti ini, karena perbedaan tematik masing-masing daerah itu perlu kita pelajari bersama,” kata Didit.