Ia menyampaikan, persentase penduduk miskin di Jawa Tengah pada Maret 2026 tercatat sebesar 9,21 persen atau sebanyak 3,29 juta orang.
Imam mengatakan tingkat kemiskinan masih relatif tinggi di wilayah pedesaan.
Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi karakter Jawa Tengah yang sebagian besar merupakan wilayah agraris, sementara alternatif sumber pendapatan masyarakat masih relatif terbatas.
Di sisi lain, perkembangan positif terlihat pada angka kemiskinan ekstrem.
Imam menyebut kemiskinan ekstrem Jawa Tengah turun dari sekitar 0,62 persen pada 2024 menjadi 0,3 persen pada 2025. Penurunan tersebut mencapai lebih dari 50 persen.
Ia mencontohkan Kota Surakarta dan Kota Salatiga yang mampu mencatat penurunan kemiskinan ekstrem secara signifikan.
Pengalaman kedua daerah tersebut, menurut Imam, dapat dijadikan pembelajaran bagi kabupaten dan kota lainnya dalam menyusun strategi penanganan kemiskinan ekstrem.
“Ini bisa menjadi rujukan best practice (praktik baik) untuk kabupaten dan kota yang lainnya, terutama dalam penurunan angka kemiskinan ekstrem,” katanya.
Melalui perluasan program pendampingan, pembenahan data, serta penguatan bantuan produktif, Taj Yasin mendorong agar upaya penanganan kemiskinan di Jawa Tengah dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan. (*)