Kemudian HM Dipa Yustia Pasha selaku Anggota Komisi E DPRD Jateng yang membawahi bidang pendidikan mengatakan bahwa membuat konten di media sosial memang tak bisa melulu serius atau formal. Namun tetap tidak boleh meninggalkan nilai-nilai luhur Pendidikan.
“Saya sendiri kalau membuat konten itu yang FYP atau viral ya yang receh-receh daripada yang serius. Tapi karena kita di sini membawa nama baik institusi ya tidak boleh melanggar norma di lembaga kita masing-masing,” ujar pria yang juga seorang influencer ini.
Anggota Fraksi Golkar Dapil Jateng 1 itu menambahkan, setiap pelaku media sosial tidak boleh anti dengan ‘klik bait’ atau kata kunci agar membuat netizen penasaran.
“Klik bait itu penting, kata-kata apa yang saat ini trend digunakan di kalangan masyarakat, terutama milenial dan Gen Z harus sering digunakan untuk meningkatkan minat melihat atau berkomentar,” tuturnya.
Klik bait juga punya peran penting dalam menarik minat netizen untuk mengikuti (memfollow) akun media sosial yang dikelola lembaga Pendidikan.
“Klik bait itu bisa menarik masyarakat media sosial kita lho. Kalau kita konsisten menggunakan klik bait yang menarik ya pasti sedikit demi sedikit follower (pengikut) bakal nambah,” tuturnya.
Dipa sendiri mengaku tak selalu memposting konten-konten serius. Dia bahkan mengaku terus berusaha mengemas pembahasan yang serius di Gedung DPRD agar terasa ringan dan relate dengan masyarakat.
“Konten-konten saya itu ya kadang receh, kadang serius, kadang foto, kadang video, macem-macemlah yang penting menghibur dan edukatif,” ungkapnya.
Kemudian pelaku media sosial, Hernanda Bayu Wicaksana, menjelaskan pentingnya membuat awalan yang menarik saat membuat konten.
“Kalau saya itu yang terpenting di tiga detik pertama. Kalau itu menarik, maka penonton akan melihat konten kita sampai selesai,” tuturnya.