KONTENSEMARANG.COM – Penggunaan transportasi umum dinilai perlu didorong menjadi bagian dari budaya masyarakat untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Perubahan tersebut tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan peningkatan kualitas layanan dan perubahan perilaku.
Anggota Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) sekaligus Staf Ahli Bidang Kawasan dan Lingkungan Kementerian Perhubungan, Robby Kurniawan, menilai kemajuan transportasi seharusnya tidak hanya dilihat dari pembangunan jalan, rel, atau jumlah armada.
Ukuran yang lebih penting adalah seberapa mudah masyarakat mencapai tujuan dengan transportasi yang tersedia.
Menurut Robby, Indonesia telah memiliki berbagai infrastruktur transportasi modern seperti jalan tol, MRT, LRT, BRT, dan kereta komuter.
Namun, pembangunan fisik tersebut perlu diikuti perubahan pola mobilitas masyarakat dari ketergantungan pada kendaraan pribadi menuju penggunaan transportasi umum.
Urgensi perubahan itu semakin besar seiring jumlah kendaraan bermotor di Indonesia yang mendekati 164 juta unit. Sementara itu, sekitar 60 persen penduduk Indonesia tinggal di kawasan perkotaan.
Jika pola perjalanan tidak berubah, pertumbuhan penduduk dan kendaraan akan terus meningkatkan kepadatan lalu lintas.
Ketergantungan terhadap kendaraan pribadi juga berdampak pada konsumsi energi, emisi, kualitas udara, keselamatan, produktivitas, penggunaan ruang kota, hingga kualitas hidup.
Karena itu, penguatan transportasi umum dinilai tidak hanya menjadi urusan sektor perhubungan, tetapi juga berkaitan dengan ekonomi, lingkungan, kesehatan, tata ruang, dan keadilan sosial.