Robby menilai transportasi umum harus mampu menjadi pilihan utama masyarakat, termasuk bagi mereka yang sebenarnya memiliki kendaraan pribadi.
Kemudahan, kenyamanan, keamanan, biaya yang terjangkau, serta kepastian waktu menjadi faktor penting agar masyarakat bersedia beralih menggunakan bus maupun kereta.
Data penggunaan transportasi umum di Jakarta menunjukkan adanya peluang perubahan perilaku tersebut.
Pada Desember 2024, MRT Jakarta melayani sekitar 3,59 juta penumpang, naik 17,79 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada bulan yang sama, Transjakarta melayani lebih dari 33 juta penumpang.
Menurut Robby, masyarakat pada dasarnya bukan tidak ingin menggunakan transportasi umum. Mereka membutuhkan sistem yang memberikan alasan kuat untuk meninggalkan kendaraan pribadi.
Karena itu, peningkatan kualitas layanan harus menjadi titik awal, termasuk integrasi rute, jadwal, halte, stasiun, pedestrian, serta konektivitas perjalanan dari dan menuju simpul transportasi.
Ia juga mendorong perubahan cara pemerintah mengukur keberhasilan pembangunan transportasi. Keberhasilan tidak cukup dihitung berdasarkan panjang jalan dan rel, jumlah armada, terminal, maupun stasiun, tetapi juga dari jumlah masyarakat yang menggunakan transportasi umum dan perjalanan kendaraan pribadi yang berhasil dialihkan.
Untuk membangun kebiasaan baru, Robby mengusulkan gerakan Public Transportation Day. Aparatur sipil negara (ASN), pegawai BUMN, dan BUMD dapat didorong menggunakan transportasi umum secara berkala sebagai bentuk keteladanan sekaligus pengalaman langsung bahwa angkutan umum dapat menjadi bagian dari mobilitas sehari-hari.
Gerakan tersebut dapat dimulai dari lingkungan Kementerian Perhubungan dengan menetapkan satu hari dalam sepekan sebagai hari penggunaan transportasi umum bagi ASN dan pegawai, khususnya di wilayah Jabodetabek.
Kebijakan itu tetap dapat memberikan pengecualian bagi pegawai yang menjalankan tugas operasional, pelayanan publik, kondisi darurat, atau tugas kedinasan tertentu.