βKami bersyukur atas dukungan semua pihak. Festival ini bukan hanya tentang perayaan budaya Tionghoa, tapi merupakan milik bersama seluruh warga Semarang,β ujar Mulyadi.
Ia menambahkan bahwa sosok Cheng Ho adalah simbol perdamaian dan akulturasi budaya. Warisannya masih bisa dirasakan hingga kini, salah satunya lewat kuliner khas Semarang seperti lumpia, yang menjadi ikon perpaduan budaya Tionghoa dan Jawa.
βFestival Cheng Ho adalah kekuatan kolektif. Ketika kita rawat bersama, akan menguatkan toleransi, ekonomi, dan jati diri kota kita,β tandasnya.
Dengan semangat kebersamaan dan pluralisme yang terus tumbuh, Festival Cheng Ho 2025 membuktikan bahwa Semarang bukan hanya kota sejarah, melainkan kota masa depan yang inklusif, terbuka, dan penuh potensi.