Di antara para pengungsi, Susi Susanti harus meninggalkan rumahnya bersama tiga anak, termasuk bayi berusia 10 bulan. Ia memilih mengungsi demi keselamatan keluarga dan berharap kebutuhan bayi seperti pampers, sabun, minyak telon, serta perlengkapan mandi tetap tersedia.
Warga lainnya, Tona, mengaku rumah kayunya yang berada di tepi hutan dan dekat sungai semakin terancam. Garis tepi Kali Keruh kian mendekati rumahnya akibat pergerakan tanah.
βSekarang lebih parah. Tanahnya cepat sekali bergerak. Kalau malam hujan deras, saya tidak bisa tenang,β katanya.
Ia berharap dapat direlokasi ke tempat yang benar-benar aman. βKalau hunian tetap, saya mau sekali. Supaya bisa hidup tenang,β ujarnya.
Sebagai informasi, bencana tanah gerak di Sirampog terjadi pada Rabu (28/1/2026) sekitar pukul 18.00 WIB. Peristiwa ini dipicu cuaca ekstrem yang menyebabkan pergerakan tanah di lereng dengan kemiringan sekitar 45 derajat mengarah ke aliran Kali Keruh di kawasan perbukitan Kecamatan Sirampog.