Dalam kesempatan itu, bantuan mulai disalurkan, di antaranya program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sebanyak tujuh unit, 127 paket sembako dari Baznas Jateng, serta bantuan senilai Rp10.065.500 dari PMI Jateng.
Di sisi lain, warga terdampak mulai merasakan dampak bantuan tersebut. Ma’arif (39), salah satu korban banjir, menyebut kondisi saat ini mulai membaik dibandingkan saat awal kejadian.
“Alhamdulillah bantuan sudah mulai terasa. Dari nasi bungkus, listrik sudah nyala, air bersih juga ada, sampai pembersihan lumpur,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengungkapkan kerusakan yang dialami cukup berat.
Rumah miliknya mengalami kerusakan sekitar 40 persen, sementara rumah orang tuanya hanyut tanpa tersisa.
Sebagian besar barang juga hilang terbawa arus.
“Kalau rumah kayu seperti kami, satu unit bisa sekitar Rp80 juta. Itu belum isinya,” tambahnya.
Selain kebutuhan perbaikan rumah, warga juga masih memerlukan bantuan untuk menemukan sisa-sisa bangunan yang tertimbun lumpur.
Sebelumnya, banjir melanda sejumlah wilayah di Demak akibat jebolnya tanggul Sungai Tuntang di Desa Trimulyo dan Sidoharjo pada Jumat (3/4/2026).
Tanggul dilaporkan rusak di tiga titik, menyebabkan air meluap dan merendam permukiman di sembilan desa yang tersebar di empat kecamatan, yakni Guntur, Wonosalam, Karangtengah, dan Kebonagung.