Meski penurunan terjadi pada masa libur sekolah, DLH berharap tren tersebut tidak bersifat sementara. Masyarakat didorong untuk terus membiasakan memilah dan mengolah sampah mulai dari lingkungan rumah.
Sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik bisa disalurkan ke bank sampah agar memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi timbunan di TPA.
"Harapannya setelah aktivitas masyarakat kembali normal, volume sampah tetap bisa terkendali. Kami terus mengajak masyarakat membangun budaya pilah sampah dari rumah sehingga beban TPA dapat terus berkurang," ujar Glory.
DLH juga menilai keterlibatan masyarakat, termasuk kelompok PKK dan komunitas lingkungan, menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di Kota Semarang.
Dengan tren penurunan hampir 70 ton sampah per hari selama masa libur sekolah, pemerintah berharap kesadaran masyarakat untuk mengurangi sampah tidak hanya menjadi kebiasaan musiman, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (*)