Besarnya potensi kerugian tersebut menunjukkan bahwa biaya pemeliharaan preventif secara rutin dapat menjadi pilihan yang lebih efisien dibandingkan menanggung biaya akibat penghentian operasional secara tiba-tiba.
Menurut Ardhian, pemeliharaan mesin yang optimal akan membantu menjaga keberlangsungan operasional PSEL.
Dengan demikian, manfaat fasilitas tersebut dapat dirasakan secara lebih maksimal, mulai dari aspek lingkungan, energi, hingga ekonomi dan sosial.
Dari sisi lingkungan, PSEL dapat membantu mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus menekan polusi.
Dari aspek energi, fasilitas ini berpotensi menyediakan sumber listrik baru yang lebih ramah lingkungan.
Sementara dari sisi ekonomi dan sosial, keberadaannya dapat membuka lapangan kerja serta memberikan tambahan pendapatan bagi daerah.
Ardhian berharap hasil risetnya tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat diterapkan oleh pemerintah maupun operator PSEL dalam kegiatan operasional sehari-hari.
"Harapan saya, rumusan strategi pemeliharaan mesin ini bisa diaplikasikan langsung di lapangan agar operasional PSEL menjadi lebih tangguh dan efisien. Dengan begitu, PSEL dapat terus beroperasi tanpa hambatan berarti, sehingga visi utamanya untuk menuntaskan darurat sampah sekaligus mendukung kemandirian energi bersih di Indonesia bisa benar-benar terwujud," tutup Ardhian. (*)