KONTENSEMARANG.COM - Pakuwon menyatakan kesiapan untuk melakukan perbaikan terhadap sejumlah rumah retak yang berada di kawasan Gombel Lama, Semarang. Langkah tersebut dilakukan setelah muncul laporan dari warga mengenai kerusakan bangunan yang diduga terdampak aktivitas pematangan lahan proyek yang sedang berlangsung di wilayah tersebut.
Permasalahan rumah retak di sekitar Gombel Lama menjadi perhatian dalam proyek investasi bernilai besar yang tengah dikembangkan. Proyek pembangunan kawasan terpadu dengan nilai investasi tahap pertama mencapai Rp5,6 triliun itu sebelumnya mendapat sorotan setelah sejumlah warga melaporkan adanya retakan dan kerusakan pada rumah mereka.
Pernyataan tersebut disampaikan manajemen Pakuwon usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi C DPRD Kota Semarang dan Dinas Penataan Ruang (Distaru) Kota Semarang pada Rabu, 17 Juni 2026.
General Affair Pakuwon Group, Iful Novianto, mengakui adanya laporan terkait kerusakan dan retakan pada beberapa rumah warga yang berada di sekitar area pematangan lahan proyek. Menurutnya, perusahaan telah melakukan survei awal terhadap kondisi rumah-rumah warga sebelum pekerjaan dimulai.
Selain itu, Pakuwon juga menyiapkan mekanisme penanganan laporan dengan melibatkan unsur RT, RW, dan kelurahan setempat guna memastikan setiap aduan dapat ditindaklanjuti sesuai prosedur.
Iful menjelaskan bahwa hingga saat ini sedikitnya 14 rumah warga telah masuk dalam tahap pendataan dan verifikasi. Perusahaan juga membuka layanan pengaduan khusus bagi masyarakat yang merasa terdampak aktivitas proyek.
Menurutnya, seluruh laporan yang masuk akan diproses melalui koordinasi bersama perangkat lingkungan setempat agar penanganan dapat dilakukan secara terukur.
Ia menambahkan bahwa saat ini terdapat dua pekerjaan besar yang berlangsung di kawasan tersebut, yakni proyek perbaikan jalan nasional yang dikerjakan pemerintah dan aktivitas pematangan lahan oleh Pakuwon. Karena itu, perusahaan akan melakukan kajian secara cermat terhadap setiap laporan sebelum menentukan langkah penanganan lebih lanjut.
Dalam penjelasannya, Iful menegaskan bahwa setiap laporan terkait dampak pematangan lahan terhadap rumah warga akan ditelaah secara menyeluruh untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kondisi bangunan yang dilaporkan mengalami kerusakan.
Sementara itu, General Manager Project High Rise Pakuwon Group, Paulus Louw, menyampaikan bahwa pekerjaan yang sedang dilakukan saat ini belum memasuki tahap pembangunan gedung.
Menurut Paulus, aktivitas yang berlangsung masih berupa pematangan lahan melalui pemasangan soldier pile atau struktur penahan tanah. Teknologi tersebut diterapkan untuk menjaga stabilitas lereng sekaligus mengurangi risiko pergerakan tanah pada kawasan yang nantinya akan dikembangkan.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan hasil kajian konsultan, penggunaan teknologi tersebut justru dirancang untuk memperkuat kondisi kawasan Gombel Lama di sekitar lokasi pengembangan. Wilayah tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu area yang memiliki kerawanan terhadap pergerakan tanah di Kota Semarang.
Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang, Rukiyanto, menegaskan bahwa investasi besar yang masuk ke daerah harus tetap memperhatikan aspek keselamatan lingkungan dan kenyamanan masyarakat yang tinggal di sekitar proyek.
"Investasi ini tentu menjadi peluang besar bagi Kota Semarang. Namun keselamatan warga dan kondisi lingkungan harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai pembangunan justru menimbulkan persoalan baru di kemudian hari," tegasnya.
Menurut Rukiyanto, kawasan Gombel Lama memiliki karakteristik geologi yang cukup kompleks karena berada di wilayah dengan riwayat tanah bergerak dan kerentanan lereng. Kondisi tersebut membuat setiap tahapan pembangunan memerlukan pengawasan yang ketat.
Ia menegaskan bahwa DPRD mendukung investasi yang masuk ke Kota Semarang. Namun, pengembang juga harus memastikan bahwa dampak terhadap masyarakat dapat diminimalkan dan ditangani secara baik.
"Kami mendukung investasi, tetapi pengembang juga harus memberikan jaminan bahwa dampak terhadap masyarakat dapat diminimalkan dan ditangani dengan baik," katanya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Penataan Ruang Kota Semarang, Ferry Kuntoaji, memastikan pemerintah daerah akan terus melakukan pengawasan terhadap proses pematangan lahan yang sedang berjalan.
Menurut Ferry, pengawasan proyek investasi di Gombel Semarang diperlukan agar seluruh tahapan pekerjaan berjalan sesuai ketentuan sekaligus tetap memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.
Ia berharap teknologi stabilisasi lereng yang diterapkan pengembang dapat membantu mengurangi risiko pergerakan tanah yang selama ini menjadi tantangan di kawasan Gombel Lama, khususnya pada area yang akan dikembangkan.
"Kami akan terus melakukan pengawasan. Harapannya teknologi yang diterapkan mampu membantu mengurangi risiko pergerakan tanah serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar," ujar Ferry.
Proyek Superblock Pakuwon sendiri digadang-gadang menjadi salah satu investasi terbesar yang masuk ke Kota Semarang dalam beberapa tahun terakhir. Kawasan tersebut direncanakan berkembang sebagai pusat gaya hidup, perdagangan, dan ekonomi baru yang memanfaatkan panorama perbukitan Gombel serta pemandangan Laut Jawa.
Pakuwon menargetkan proses pematangan lahan dapat selesai pada akhir tahun 2026. Sementara itu, operasional kawasan secara keseluruhan diperkirakan mulai berjalan pada tahun 2030.
Seiring berjalannya proyek tersebut, proses verifikasi terhadap laporan rumah retak akan terus dilakukan sebagai bagian dari tindak lanjut atas aduan masyarakat yang berada di sekitar kawasan pengembangan.