Konten Semarang
Regional

Taj Yasin Dorong Satgas Anti-Kekerasan Dibentuk di Seluruh Pesantren Jawa Tengah

Pemprov Jateng dorong pembentukan Satgas Perlindungan Santri di pesantren untuk cegah bullying dan kekerasan.

×
WhatsApp Image 2026-05-10 at 18.34.44

KONTENSEMARANG.COM — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat sistem perlindungan bagi santri di lingkungan pondok pesantren. Salah satu langkah yang kini didorong adalah pembentukan satuan tugas anti-bullying dan anti-kekerasan terhadap perempuan serta anak di seluruh pesantren di Jawa Tengah.

Komitmen tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, saat menghadiri Halaqah Interaktif Pengasuh Pesantren Putri Jawa Tengah bertema “Dari Pesantren untuk Pesantren: Membangun Sistem Perlindungan Santri Berbasis Nilai Pesantren di Jawa Tengah” di Pendopo Kabupaten Banjarnegara, Minggu (10/5).

Menurut Gus Yasin, penguatan perlindungan santri dilakukan melalui kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Jawa Tengah.

“Intinya adalah edukasi ke pesantren-pesantren tentang pentingnya perlindungan santri, kemudian pembentukan satgas anti-bullying dan anti-kekerasan terhadap perempuan dan anak,” katanya.

Ia menegaskan bahwa perlindungan terhadap santri tidak cukup hanya dilakukan ketika kasus terjadi. Menurutnya, perlu dibangun sistem perlindungan yang menyeluruh melalui penguatan layanan kesehatan, pendidikan, hingga pendampingan psikologis bagi para santri.

Sebagai bagian dari langkah tersebut, Pemprov Jateng mengintegrasikan program Dokter Spesialis Keliling (Spelling) dengan program anjangsana pesantren milik RMI NU Jawa Tengah. Nantinya, layanan kesehatan akan menjangkau langsung lingkungan pesantren, termasuk pendampingan psikolog dan psikiater.

“Kasus kekerasan sering kali tidak terungkap karena korban takut bicara. Karena itu, kami sedang merumuskan kanal aduan khusus yang bisa diakses secara profesional, termasuk lewat layanan telemedis,” ujarnya.

Menurut Taj Yasin, pesantren harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi para santri, bukan hanya dalam proses pendidikan keilmuan, tetapi juga dari sisi emosional dan psikologis.

“Kalau korban tidak berani bicara langsung, setidaknya mereka punya ruang aman untuk menyampaikan. Ini yang sedang kami siapkan,” katanya.

Selain memperkuat perlindungan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan pesantren melalui program beasiswa pendidikan.

Halaman 1 dari 2