KONTENSEMARANG.COM – Insiden nahas di perlintasan kereta api Jalan Kokrosono, Semarang Tengah, pada Senin (20/6/2026) turut mengundang simpati Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.
Kecelakaan maut ini merenggut nyawa seorang siswa sekolah dasar (SD), sedangkan dua orang lainnya harus dilarikan ke RSUP Dr Kariadi Semarang untuk mendapatkan perawatan intensif.
Peristiwa bermula sekitar pukul 07.00 WIB saat sebuah motor Honda Supra berpenumpang tiga orang nekat menyeberangi rel. Malang tak dapat ditolak, kendaraan roda dua itu dihantam oleh kereta barang yang melaju dari barat ke timur.
Tragedi ini menewaskan HRA (9), bocah asal Kaliasin, Semarang Utara. Dua penumpang lain, yaitu ZIA (12) dan Rujito (45), kini tengah dirawat akibat luka parah di area kepala.
Menyikapi kejadian tragis ini, Gubernur Luthfi menyatakan dukacita mendalam.
"Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya, atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan seluruh jajaran," kata Luthfi.
Ia merasa sangat prihatin karena insiden tersebut terjadi tepat saat anak-anak sedang semangat berangkat ke sekolah di momen awal tahun ajaran baru. Luthfi pun menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk bersama-sama mendoakan para korban.
"Kita doakan yang sudah mendahului mendapatkan husnul khatimah. Kemudian yang masih dirawat semoga segera dipulihkan," ujarnya.
Tak sekadar ucapan belasungkawa, Gubernur juga turun langsung menyerahkan bantuan sekaligus menginstruksikan Dinas Kesehatan untuk memantau penanganan medis di rumah sakit secara optimal.
"Rumah sakit saya perintahkan untuk membantu penuh. Nanti Dinas Kesehatan berkoordinasi agar penderitaan keluarga itu dapat diringankan," tegasnya.
Dari laporan pihak kepolisian, diketahui bahwa penjaga perlintasan sebetulnya sudah membunyikan peringatan dan menutup palang pintu.
Sayangnya, pengendara motor tersebut tetap menerobos sehingga bagian belakang motor tersambar badan kereta.
Benturan keras itu mengakibatkan ketiga penumpang beserta motornya terlempar jauh ke pembatas jalan. Mereka kemudian dievakuasi dalam keadaan pingsan menuju RSUP Dr Kariadi.
Sebagai penutup, Luthfi berharap kejadian ini menjadi peringatan keras bagi warga agar lebih disiplin mematuhi aturan di perlintasan sebidang.
Pantang bagi pengendara untuk menerobos jika sirene sudah berdering atau petugas telah memberi peringatan awal.
"Apabila sudah ada tanda-tanda dari petugas, apalagi bunyi peringatan, palang pintu belum turun pun harus berhenti," katanya.
Mengingat laju dan jarak kereta api yang sering kali sulit ditakar oleh mata pengendara, kepatuhan terhadap rambu adalah kunci keselamatan utama.
"Ini menjadi perhatian kita agar tidak terulang kembali," pungkasnya. (*)