Ia juga mendorong pembentukan wadah resmi seperti Koperasi PEKKA atau Kelompok Usaha Bersama (KUB) untuk memperkuat posisi usaha perempuan secara kolektif.
Selain promosi digital, peserta diajak melihat peluang diversifikasi produk berbasis bahan lokal. Contohnya, keripik singkong dapat dikembangkan menjadi varian rasa modern seperti keju, balado, atau versi sehat rendah gula.
Antusiasme terlihat dari peserta, salah satunya Retno Juharni, Ketua PEKKA Kelurahan Tamangede. “Saya langsung membuat akun usaha di Instagram setelah mendapat pelatihan ini,” ujarnya.
Di penghujung kegiatan, tim PkM USM menyatakan komitmennya untuk terus mendampingi PEKKA Tamangede, termasuk membantu pendaftaran produk ke e-Katalog dan platform digital, serta menjalin kerja sama dengan instansi pemerintah.
Dengan sinergi antara akademisi, komunitas, dan pemerintah daerah, pemberdayaan perempuan di Kendal diharapkan mampu meningkatkan kemandirian ekonomi sekaligus memperkuat peran perempuan sebagai motor penggerak pembangunan desa.