KONTENSEMARANG.COM - Ketersediaan air bersih dan sanitasi yang layak masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah Jawa Tengah.
Meski capaian layanan dasar terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, kesenjangan akses antara wilayah perkotaan dan pedesaan masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian serius.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, menilai pemerataan akses air bersih dan sanitasi harus menjadi bagian penting dari agenda pembangunan daerah karena berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat dan kualitas sumber daya manusia.
“Pembangunan tidak boleh hanya diukur dari jalan, gedung, atau infrastruktur fisik lainnya. Air bersih dan sanitasi yang layak adalah kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 87,51 persen rumah tangga di Jawa Tengah telah memiliki akses sanitasi layak pada 2025.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2023, akses sanitasi layak tercatat sebesar 85,20 persen, naik dari 84,37 persen pada 2022.
Meski demikian, Heri mengingatkan bahwa capaian tersebut masih menyisakan sejumlah tantangan, terutama di wilayah pedesaan dan daerah yang memiliki keterbatasan infrastruktur dasar.
Menurutnya, persoalan sanitasi tidak hanya berkaitan dengan keberadaan jamban atau fasilitas buang air besar, tetapi juga menyangkut kualitas pengelolaan limbah domestik yang aman bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
“Masih banyak wilayah yang membutuhkan perhatian lebih agar masyarakat tidak hanya memiliki akses sanitasi, tetapi juga mendapatkan layanan sanitasi yang aman dan berkelanjutan,” katanya.
Ia menyoroti bahwa capaian sanitasi aman di Jawa Tengah masih relatif rendah. Berdasarkan data BPS tahun 2024, akses sanitasi aman yang mencakup pengelolaan lumpur tinja dan sistem pengolahan yang memenuhi standar baru mencapai sekitar 10,84 persen.