Selain itu, deepfake juga berpotensi digunakan dalam modus penipuan digital. Manipulasi wajah dan suara dapat membuat pelaku kejahatan lebih mudah meyakinkan calon korban, termasuk untuk meminta uang maupun memperoleh informasi pribadi.
Kondisi tersebut, menurut Heri, menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi saja tidak cukup.
Masyarakat juga harus memiliki pemahaman mengenai risiko digital serta kemampuan untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil tindakan.
“Jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi jadilah pengguna yang cerdas dan bertanggung jawab. Deepfake bisa merusak reputasi seseorang, memecah belah masyarakat, bahkan menjerumuskan orang ke dalam tindak penipuan,” tegasnya.
Politikus yang akrab disapa Heri Londo itu mendorong penguatan literasi digital sebagai salah satu langkah penting untuk menghadapi risiko penyalahgunaan teknologi AI.
Menurutnya, generasi muda perlu dibekali kemampuan melakukan verifikasi informasi, menjaga data pribadi, serta memahami etika dalam menggunakan teknologi.
Ia juga mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas digital, dan berbagai pihak terkait dalam meningkatkan kesadaran mengenai keamanan digital.
Sekolah dan perguruan tinggi, menurut Heri, dapat mengambil peran penting dalam membangun pemahaman generasi muda agar tidak mudah menjadi korban maupun ikut menyebarkan konten hasil manipulasi.
“Teknologi akan terus berkembang. Karena itu kemampuan berpikir kritis juga harus terus berkembang. Kalau tidak, kita berisiko menjadi korban dari teknologi yang sebenarnya diciptakan untuk membantu manusia,” katanya.
Heri berharap perkembangan AI dapat dimanfaatkan secara positif untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat. Namun, kemajuan tersebut harus berjalan seiring dengan tanggung jawab dan penguatan literasi digital.