“Kita perlu merumuskan kebijakan baru beserta turunannya, program-program yang harus dituntaskan oleh para kepala cabang. Karena itu strategi yang kita lakukan harus berbeda di Semester II Tahun 2026,” kata Bambang.
Ia menjelaskan, Bank Jateng telah menyiapkan empat fokus kebijakan utama, yaitu penguatan permodalan dan tata kelola perusahaan, percepatan transformasi digital, peningkatan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia, serta pengembangan skala bisnis.
Melalui strategi tersebut, Bank Jateng menargetkan peningkatan kualitas kredit, penurunan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL), serta pertumbuhan bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Hingga Maret 2026, Bank Jateng mencatat total aset sebesar Rp93,97 triliun.
Dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun mencapai Rp75,80 triliun, sementara penyaluran kredit tercatat sebesar Rp63,66 triliun. Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) berada di angka 22 persen.
Prospek pengembangan bisnis Bank Jateng juga didukung oleh kondisi ekonomi Jawa Tengah yang terus menunjukkan kinerja positif.
Pada triwulan I 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,89 persen atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen. Tingkat pengangguran terbuka pun menurun menjadi 4,24 persen.
Rapat tersebut turut dihadiri jajaran komisaris dan direksi Bank Jateng, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno selaku Komisaris Bank Jateng, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Jateng Urip Sihabuddin, Kepala Biro BUMD dan BLUD Setda Jateng Agus Prasutio, serta para pimpinan cabang dan kepala divisi Bank Jateng. (*)