Konten Semarang
Semarang

Belajar dari Air: Semarang Ubah Paradigma Penanganan Banjir

Semarang bertransformasi hadapi banjir dengan pelebaran saluran, polder, dan pompa. Kolaborasi sains dan kesadaran masyarakat jadi kunci.

×
WhatsApp Image 2026-01-04 at 18.49.17

- Polder berfungsi sebagai penampung sementara. Dengan pengerukan waduk mini di titik rendah, air ditahan agar tidak langsung membebani saluran utama.

- Pompa berperan aktif memindahkan air dari polder ke saluran besar atau langsung ke laut. Penempatan 220 unit pompa di kawasan rawan seperti Tawang Mas dan Peterongan membuat proses pengaliran lebih cepat

Agustina menjelaskan, "Polder menahan beban dasar air, sementara pompa yang responsif berfungsi sebagai pembangkit cadangan." Kolaborasi dengan BWS, BPJN, dan TNI memastikan sistem ini berjalan harmonis

Transformasi ini bukan hanya soal mengeringkan genangan, tetapi juga membawa dampak besar

- Risiko berkurang: Infrastruktur kini lebih siap menghadapi hujan ekstrem.

- Ekonomi stabil: Dunia usaha dapat beroperasi tanpa dihantui ancaman banjir.

- Efisiensi energi: Mengandalkan saluran lebar dan polder lebih hemat listrik dibanding hanya mengandalkan pompa

Meski teknologi sudah disiapkan, Agustina mengingatkan bahwa semua bisa gagal jika masyarakat masih membuang sampah sembarangan. "Satu plastik bisa menyumbat, merusak semua perhitungan fisika yang cermat," tegasnya

Transformasi Semarang adalah proyek bersama: pemerintah membangun infrastruktur sesuai hukum alam, masyarakat menjaga dengan kesadaran.

Jika sains dan kolaborasi bersatu, ancaman banjir bisa dikendalikan. Kota-kota pesisir lain di Indonesia pun dapat belajar dari revolusi pengelolaan air yang dimulai di Semarang. 

Halaman 2 dari 2