Program tersebut dirancang agar santri memiliki kompetensi yang lebih luas. Pendidikan santri tidak hanya berfokus pada ilmu agama, tetapi juga membuka kesempatan untuk mendalami berbagai bidang seperti kedokteran, sains, dan teknologi.
Dengan bekal tersebut, santri diharapkan mampu berkiprah di berbagai sektor kehidupan masyarakat tanpa kehilangan nilai-nilai yang diperoleh dari pendidikan pesantren.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam kesempatan tersebut juga meminta para santri penerima beasiswa memiliki kepercayaan diri dan mampu menunjukkan keunggulan yang dimiliki.
"Saya ngasih beasiswa ke kelompok mahasiswa itu biasa, tetapi santri ini luar biasa karena mempunyai nilai lebih dari yang bukan santri, santri diajarkan tentang toleransi beragama dan apapun tentang aturan kebenaran, " kata Luthfi.
Luthfi menegaskan program beasiswa bagi santri dan pengasuh pesantren perlu terus diperkuat. Ia juga mendorong pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Tengah ikut mengambil peran dalam pengembangan program tersebut.
"Program ini harus dijadikan role model, sehingga tidak hanya provinsi yang bergerak, tetapi kabupaten/kota nanti kita ikut sertakan, sehingga pemberdayaan pesantren ini bisa menyeluruh," katanya.
Pada kegiatan tersebut, Pemprov Jawa Tengah juga menandatangani nota kesepahaman bersama 24 Ma'had Aly atau perguruan tinggi yang berada di lingkungan pondok pesantren. (*)