Konten Semarang
Regional

Hari Jadi Ke-81 Jateng: Dari Sawah Jawa Tengah untuk Meja Makan Indonesia

Pertanian Jateng terus diperkuat untuk menopang pangan nasional, dengan target produksi padi 10,55 juta ton GKG pada 2026.

Pertanian Jateng terus diperkuat untuk menopang pangan nasional, dengan target produksi padi 10,55 juta ton GKG pada 2026.
Pertanian Jateng terus diperkuat untuk menopang pangan nasional, dengan target produksi padi 10,55 juta ton GKG pada 2026.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperketat pengendalian alih fungsi lahan sawah di wilayahnya. 

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, hingga kini sebanyak 26 kabupaten/kota di wilayahnya telah memenuhi target perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) sebesar 87 persen. 

Menurutnya, pemenuhan target tersebut dinilai penting guna menjaga Jawa Tengah sebagai salah satu lumbung pangan nasional.

Upaya-upaya itu bukanlah isapan jempol belaka. Manfaat dukungan sarana pertanian antara lain dirasakan petani di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang. Kelompok Tani Budi Luhur yang beranggotakan 80 petani mengelola lahan sekitar 35 hektare. Sebelumnya, lahan di wilayah tersebut hanya mampu ditanami padi satu kali dalam setahun. Setelah memperoleh dukungan irigasi perpompaan dan alat mesin pertanian, petani dapat menanam hingga tiga kali, dengan produksi sekitar 7–7,5 ton per hektare. 

Anggota Kelompok Tani Budi Luhur, Karyono, mengungkapkan, bantuan irigasi memberi petani keberanian untuk kembali mengolah lahan meski menghadapi ancaman kemarau panjang.
“Sejak mendapat bantuan irpom, petani di sini bisa merasakan panen tiga kali,” Karyono, anggota Kelompok Tani Budi Luhur. 

Selain bantuan benih dan irigasi, modernisasi pertanian terus diperluas. Salah satunya melalui pola mekanisasi terintegrasi yang dikenal sebagai “sistem sepur”. Mesin panen, pengolah tanah, penyemprot dekomposer, dan mesin tanam bekerja secara berurutan, sehingga lahan dapat segera ditanami kembali setelah panen.

Untuk lahan seluas dua hektare, pekerjaan yang secara manual membutuhkan waktu hingga 10 hari dapat diselesaikan dalam satu hari. Percepatan tersebut membuka peluang peningkatan indeks pertanaman sekaligus menghemat waktu dan tenaga petani.

Penguatan produksi juga ditopang melalui rehabilitasi 334 paket jaringan irigasi tersier dan pembangunan 75 paket irigasi perpipaan. Distribusi alat pertanian mencakup 100 unit mesin penanam padi, 86 traktor crawler, 30 traktor roda empat, 100 pompa air, 10 combine harvester, serta puluhan unit cultivator dan traktor tangan.  

Perlindungan terhadap risiko usaha tani juga disiapkan. Pemprov Jateng mengalokasikan program Asuransi Usaha Tani Padi untuk lahan seluas 10.449 hektare serta subsidi suku bunga bagi 800 paket pembiayaan petani. Perlindungan tersebut diperlukan agar petani tidak menanggung sendiri seluruh kerugian ketika lahannya terdampak bencana atau mengalami gagal panen.  

Gubernur Luthfi menegaskan, peningkatan produksi pangan membutuhkan keterlibatan seluruh kabupaten dan kota, terutama dalam menjaga lahan pertanian, memperkuat mekanisasi, dan mendampingi kelompok tani.

Baca Juga Otomatis

Rekomendasi berdasarkan kategori dan tag berita ini.

Halaman 2 dari 3

Artikel Selanjutnya

Akses pendidikan Jateng diperluas melalui sekolah gratis, kemitraan, beasiswa, SMANKO, hingga program Sister Province ke Korea Selatan.
Regional • 16 Agustus 2026

Hari Jadi Ke-81 Jateng: Akses Pendidikan Kian Luas dan Gratis, Harapan Tak Lagi Terkikis

Rekomendasi Redaksi