βKalau ada yang tertidur, bisa gosong karena dimasak pakai kayu bakar. Jadi harus benar-benar dijaga,β jelasnya.
Menurutnya, proses memasak lopis tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga disertai kegiatan spiritual seperti iktikaf dan zikir.
Doa dipanjatkan agar hasilnya sempurna, sehingga tradisi ini tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga mengandung makna religius.
βIni murni untuk mempererat silaturahmi. Lopis adalah simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat,β tegasnya.
Sebagai informasi, terdapat dua lopis raksasa yang disajikan. Lopis pertama dibuat warga Krapyak Gang Sembawan dengan diameter 262 sentimeter dan tinggi 239 sentimeter.
Sementara lopis kedua dibuat warga Krapyak Lor Gang 1 dengan berat 2,5 ton, diameter 75 sentimeter, dan tinggi 225 sentimeter.
Selain lopis, kemeriahan Syawalan juga terasa di Kelurahan Panjang Wetan melalui sajian gunungan seribu bungkus kue Bugis.
Wawali Balgis Diab menyebut, kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa syukur masyarakat karena wilayah tersebut kini terbebas dari banjir dan rob.
βAlhamdulillah, hari ini acara Syawalan di Kota Pekalongan ada tambahan acara lagi, dari Kampung Bugisan menghadirkan sesuatu yang berbeda. Ada tambahan acara berupa gunungan kue Bugis sebanyak seribu bungkus. Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata baru di Kota Pekalongan,β ujarnya.
Ketua RW 01 Kelurahan Panjang Wetan, Slamet Mulyono, mengatakan kegiatan ini merupakan penyelenggaraan perdana yang bertujuan menggali potensi lokal sekaligus mempererat kebersamaan warga.