βSeribu Bugis ini baru pertama kali kami adakan. Dulu sempat ada tradisi panjat pohon pinang di pinggiran kali, tetapi berhenti sejak 2019 karena kondisi lingkungan. Sekarang kami mencoba mengangkat potensi lokal, yaitu kue Bugis,β ungkapnya.
Ia menambahkan, gunungan kue Bugis setinggi sekitar 1,5 meter tersebut menjadi simbol kreativitas sekaligus mencerminkan keberagaman masyarakat yang hidup rukun.
βKue Bugis ini menjadi simbol keberagaman agama, kultur, dan budaya yang menyatu. Warga tetap kompak, rukun, dan saling toleransi. Kegiatan ini murni dari swadaya masyarakat, di mana setiap RT menyumbang sekitar 300 kue Bugis,β tambahnya.
Ke depan, tradisi Seribu Bugis diharapkan dapat terus digelar setiap tahun sebagai bagian dari perayaan Syawalan dan menjadi daya tarik wisata baru di Kota Pekalongan. (*)