“Karakteristik nelayan Semarang berbeda dengan daerah lain karena sebagian besar melaut tidak terlalu jauh, sehingga kebutuhan BBM juga disesuaikan,” ujarnya.
Sebagai langkah pendampingan intensif, Pemkot Semarang tengah menyiapkan posko pelayanan terpadu di kawasan Rumah Apung Tambak Lorok pada Agustus mendatang.
Layanan jemput bola ini akan menggandeng instansi terkait seperti Disdukcapil dan DPMPTSP agar nelayan dapat merampungkan segala perizinan cukup di satu tempat saja.
“Kami ingin mempermudah pelayanan. Dengan menghadirkan seluruh instansi di satu tempat, nelayan tidak perlu berpindah-pindah untuk mengurus persyaratan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Soenarto menyebut penerima kuota solar subsidi ini mayoritas berasal dari pesisir Tambak Lorok.
Di sisi lain, para nelayan di kawasan pesisir barat seperti Mangunharjo dan Mangkang Wetan lebih banyak memanfaatkan bensin ataupun gas elpiji hasil konversi lantaran ukuran perahu mereka jauh lebih kecil. (*)