KONTENSEMARANG.COM – Keterbatasan alat timbang ternak tidak lagi menjadi satu-satunya kendala bagi peternak di Kawasan Transmigrasi (KT) Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, dalam mengetahui bobot sapi mereka.
Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 3 Universitas Diponegoro (UNDIP) memperkenalkan metode sederhana menggunakan pita ukur untuk memperkirakan berat badan sapi.
Pendampingan tersebut dilakukan saat tim mengikuti aktivitas peternak lokal, termasuk Mak Tri, yang sehari-hari mengarit rumput untuk memenuhi kebutuhan pakan ternaknya.
Dari interaksi di lapangan, TEP 3 UNDIP menemukan bahwa metode pengukuran lingkar dada dapat menjadi alternatif praktis bagi peternak di daerah yang belum memiliki fasilitas timbangan ternak.
Tim yang diketuai Ir. Daud Samsudewa, S.Pt., M.Si., Ph.D., IPM itu memberikan edukasi mengenai cara mengukur lingkar dada sapi sebagai dasar memperkirakan bobot badan.
Peternak cukup menggunakan pita ukur atau meteran sehingga tidak perlu bergantung pada timbangan berukuran besar yang relatif mahal.
Selama tiga pekan melakukan observasi dan berinteraksi dengan masyarakat, TEP 3 UNDIP menemukan bahwa sebagian peternak di Senggi masih menentukan bobot sapi berdasarkan pengamatan mata dan pengalaman.
Padahal, informasi mengenai bobot ternak diperlukan untuk memantau pertumbuhan sekaligus menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan harga jual.
Metode tersebut mendapat respons positif dari peternak. Mak Tri mengaku baru mengetahui bahwa berat sapi dapat diperkirakan melalui pengukuran lingkar dada.
“Oh iya? Saya baru tahu kalau sapi bisa diukur pakai meteran. Biasanya kami cuma kira-kira saja bobotnya untuk patokan harga jual,” ungkap Mak Tri saat didampingi TEP 3 UNDIP di lokasi SP 2 KT Senggi.