“Rumah merupakan tempat tumbuh kembang anak-anak dan ruang beristirahat orang tua. Perbaikan sepuluh rumah di Sawah Besar ini memiliki arti besar bagi masa depan keluarga yang menghuninya,” katanya.
Selain persoalan hunian, Pemkot Semarang juga memberi perhatian pada ancaman banjir di wilayah Gayamsari.
Sawah Besar dan Kaligawe termasuk dalam sistem pengendalian Sungai Tenggang yang membutuhkan pengelolaan secara terpadu.
Salah satu infrastruktur penting dalam sistem tersebut adalah Kolam Retensi Rusunawa-Kaligawe. Kolam tersebut memiliki luas sekitar 14,3 hektare dengan kapasitas tampung mencapai sekitar 228.700 meter kubik.
Agustina menilai keberadaan saluran air, pompa, dan kolam retensi harus terus dirawat sekaligus dikembangkan agar proses penampungan, pengaliran, dan pemompaan air dapat berlangsung secara optimal.
Pemkot Semarang juga tengah menyusun konsep penanganan banjir kawasan timur secara lebih terintegrasi.
Salah satu opsi yang dikaji adalah pemanfaatan aset untuk membangun jaringan kolam retensi yang dapat saling terhubung.
Menurut Agustina, penanganan banjir harus dilakukan secara menyeluruh dari wilayah hulu hingga hilir. Perencanaan yang matang dan keterlibatan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menjaga efektivitas sistem pengendalian banjir.
Kesadaran warga untuk menjaga lingkungan, termasuk tidak membuang sampah sembarangan dan merawat infrastruktur pengendali air, menjadi bagian dari upaya tersebut.
“Gotong royong antara TNI, pemerintah, dan warga terbukti mampu menghadirkan perubahan yang nyata. Saya titip agar jalan, talud, tandon air, dan rumah yang sudah diperbaiki ini kita rawat bersama,” pungkasnya. (*)