Jateng Pelopori Pendidikan Koperasi di Sekolah, Jangkau 6,38 Juta Pelajar dari SD hingga SLB

Jateng Pelopori Pendidikan Koperasi di Sekolah, Jangkau 6,38 Juta Pelajar dari SD hingga SLB
Jateng Pelopori Pendidikan Koperasi di Sekolah, Jangkau 6,38 Juta Pelajar dari SD hingga SLB

KONTENSEMARANG.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi meluncurkan Program Insersi Pendidikan Perkoperasian yang akan diterapkan secara terintegrasi di sekolah-sekolah. 

Program ini menjadikan Jawa Tengah sebagai provinsi pertama yang menginisiasi pendidikan koperasi secara sistematis dan berkelanjutan dengan sasaran sekitar 6,38 juta siswa mulai dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA hingga SLB.

Peluncuran program tersebut berlangsung di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Jumat (5/6), dan dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Menteri Koperasi RI Ferry Juliantono, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, serta Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI Toni Toharudin.

Gubernur Ahmad Luthfi mengatakan, langkah ini diambil untuk memperkenalkan kembali nilai dan prinsip koperasi kepada generasi muda sejak usia sekolah.

Menurutnya, koperasi merupakan bagian penting dari amanat konstitusi yang harus terus dipahami dan dikembangkan oleh masyarakat.

“Koperasi merupakan amanah Undang-Undang Dasar 1945, khususnya Pasal 33. Program ini juga selaras dengan kebijakan pemerintah terkait Koperasi Merah Putih,” kata Luthfi.

Ia memastikan, penerapan pendidikan koperasi tidak akan menambah mata pelajaran maupun membebani siswa.

Materi perkoperasian akan disisipkan ke dalam pelajaran yang telah ada melalui pendekatan insersi.

Luthfi menjelaskan, Jawa Tengah telah menyiapkan modul pembelajaran khusus serta memberikan pembekalan kepada kepala sekolah, pengawas, dan guru untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.

Bahkan, provinsi ini menjadi yang pertama menyusun materi dan modul pendidikan koperasi bagi peserta didik.

Melalui program tersebut, nilai-nilai koperasi akan diperkenalkan sesuai jenjang pendidikan. Siswa SD/MI akan dikenalkan pada konsep gotong royong dan nilai dasar koperasi.

Di tingkat SMP/MTs, peserta didik mulai mempelajari organisasi, tata kelola, dan manfaat koperasi. 

Sementara siswa SMA/SMK/MA akan mendapatkan materi yang lebih menitikberatkan pada praktik koperasi dan kewirausahaan. 

Adapun untuk siswa SLB, materi akan disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik.

Menteri Koperasi RI Ferry Juliantono memberikan apresiasi atas terobosan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Ia menyebut langkah tersebut sebagai sejarah baru dalam dunia pendidikan dan perkoperasian nasional.

“Saya mengucapkan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, khususnya Bapak Gubernur Jawa Tengah, yang hari ini telah melahirkan sejarah,” kata Ferry.

Menurutnya, pendidikan koperasi sangat penting untuk menanamkan kembali pemahaman tentang ekonomi Pancasila kepada generasi muda.

Ia berharap program serupa dapat diterapkan oleh daerah lain di Indonesia.

Ferry menegaskan, koperasi tidak seharusnya dipandang hanya sebagai lembaga simpan pinjam.

Lebih dari itu, koperasi merupakan badan usaha yang mencerminkan nilai gotong royong, kebersamaan, dan kekeluargaan yang menjadi karakter bangsa Indonesia.

“Koperasi penting dikenalkan karena bisa menjadi alternatif penyediaan lapangan pekerjaan bagi milenial, Gen Z, generasi muda, hingga generasi Alpha yang sekarang masih sekolah,” katanya saat doorstop.

Apresiasi juga datang dari Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Toni Toharudin.

Ia menilai pendidikan koperasi memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik, bukan sekadar mengenalkan konsep ekonomi.

“Pendidikan perkoperasian sesungguhnya bukan sekadar mengajarkan cara membentuk koperasi sekolah, dan bukan pula hanya mengenalkan sejarah Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Lebih dari itu, pendidikan perkoperasian adalah proses menanamkan nilai kebersamaan, tanggung jawab, kejujuran, kepemimpinan, kemandirian, serta semangat membangun kesejahteraan bersama,” kata Toni.

Menurutnya, pendekatan insersi yang diterapkan Jawa Tengah memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih kontekstual tanpa harus menambah beban kurikulum yang sudah ada.

“Pendekatan ini memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih otentik, tanpa harus menambah beban kurikulum atau menciptakan mata pelajaran baru,” ujarnya saat sambutan.

Sementara itu, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menyatakan dukungannya terhadap program tersebut.

Ia menilai pendidikan koperasi selaras dengan nilai-nilai keagamaan yang menekankan semangat gotong royong, kepedulian sosial, dan kemandirian.

“Kementerian Agama bersama seluruh lembaga pendidikannya siap mendukung gagasan cerdas yang dimunculkan oleh Gubernur Jawa Tengah,” kata dia.

Nasaruddin menambahkan, pengembangan koperasi juga dapat diperluas melalui berbagai lembaga keagamaan seperti masjid, pondok pesantren, organisasi keagamaan, hingga rumah ibadah lainnya untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.

Program Insersi Pendidikan Perkoperasian diharapkan menjadi investasi jangka panjang dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa gotong royong, kemampuan berwirausaha, serta kepedulian terhadap kesejahteraan bersama. (*)