Menurut Maryana, waktu munculnya gejala pada setiap siswa juga tidak sama. Sebagian mulai mengalami keluhan pada malam hari, sementara siswa lainnya baru merasakan gejala pada keesokan harinya.
“Kalau untuk anak-anak beragam dari mulai malam. Ada juga yang esok harinya. Enggak sama,” ujarnya.
Maryana mengatakan, seluruh 26 siswa yang terdampak sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Sementara itu, satu orang guru masih mendapatkan perawatan di RSUD Limpung.
Keluhan yang paling banyak dirasakan para korban adalah mual dan diare. Maryana berharap kejadian tersebut menjadi perhatian agar pelaksanaan program MBG berikutnya dapat semakin aman bagi anak-anak.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Bawang Ida Suryani mengatakan, pihaknya mulai menangani pasien yang berdatangan sejak Rabu. Secara keseluruhan terdapat 597 orang yang mendapatkan penanganan.
Dari jumlah tersebut, 32 orang menjalani rawat jalan di puskesmas, 384 orang menjalani rawat jalan, sedangkan 182 orang dirujuk ke RSUD Limpung, RSUD Batang, dan puskesmas rawat inap lainnya di Batang. Rentang usia korban yang ditangani mulai dari balita hingga lansia.
"Hari ini yang masih dirawat inap di sini ada 8 orang dan kondisinya sudah cukup membaik,” kata Ida.
Ia menjelaskan, pasien yang datang ke Puskesmas Bawang mengalami sejumlah keluhan, antara lain mual, sakit perut, muntah, diare, serta kondisi panas-dingin.
Namun, dari pemeriksaan yang telah dilakukan, penyebab keluhan tersebut belum diketahui secara pasti. Hasil pemeriksaan laboratorium baru akan keluar setelah 20 hari.
Ida menambahkan, peristiwa dugaan keracunan MBG di Batang tersebut menjadi pelajaran bersama. Karena itu, langkah antisipasi akan terus ditingkatkan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.