Konten Semarang
Pendidikan

Pesantren Obah Antarkan Santri Jateng Kuliah di Luar Negeri

Program Pesantren Obah Pemprov Jateng mengantar santri kuliah ke China dan Mesir. Tahun 2026, total anggaran beasiswa mencapai Rp6,8 miliar.

Program Pesantren Obah Pemprov Jateng mengantar santri kuliah ke China dan Mesir. Tahun 2026, total anggaran beasiswa mencapai Rp6,8 miliar.
Program Pesantren Obah Pemprov Jateng mengantar santri kuliah ke China dan Mesir. Tahun 2026, total anggaran beasiswa mencapai Rp6,8 miliar.
Foto: Humas Prov Jateng

KONTENSEMARANG.COM – Kesempatan menempuh pendidikan tinggi di luar negeri kini dirasakan sejumlah santri asal Jawa Tengah melalui program Beasiswa Santri Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Salah satunya Akhmad Khafidz Al Mubarok, santri asal Kabupaten Kudus yang berhasil melanjutkan pendidikan di Dalian University of Technology, China.

Keberhasilan Khafidz menjadi salah satu gambaran manfaat program Pesantren Obah yang dikembangkan Pemprov Jawa Tengah untuk memperluas kesempatan pendidikan bagi kalangan pesantren. Melalui dukungan beasiswa yang difasilitasi Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP), para santri mendapatkan peluang melanjutkan pendidikan, termasuk ke perguruan tinggi luar negeri.

Khafidz merupakan santri Pondok Tahfidz Yanbu’ul Quran Menawan, Kabupaten Kudus. Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswa tahun pertama jurusan Computer Science and Technology di Dalian University of Technology.

Keberhasilannya menempuh pendidikan di China merupakan hasil dari proses panjang yang dilalui sejak masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Selain ketekunan belajar, Khafidz mengakui dukungan keluarga, lingkungan pesantren, dan kesempatan memperoleh beasiswa menjadi bagian penting dalam mewujudkan cita-citanya.

Baginya, bantuan pendidikan tersebut tidak hanya memberikan kesempatan belajar di luar negeri, tetapi juga membantu mengurangi beban biaya yang harus ditanggung keluarga.

Khafidz pun menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah atas kesempatan yang diberikan melalui program beasiswa santri.

“Terima kasih kepadakepada Gubernur Jawa Tengah dan Wakil Gubernur Jawa Tengah yang telah menyelenggarakan program beasiswa santri,” ucapnya saat dihubungi dari Kota Semarang pada 22 Oktober 2026.

Berawal dari Pesan Ayah, Khafidz Tekuni Bahasa Mandarin

Perjalanan Khafidz menuju perguruan tinggi di China bermula dari percakapan sederhana dengan ayahnya ketika ia masih duduk di kelas IX MTs.

Saat berbicara melalui telepon, sang ayah menyarankannya untuk mempelajari bahasa Mandarin.

Menurut ayahnya, kemampuan menguasai bahasa tersebut dapat membuka kesempatan yang lebih luas untuk pendidikan, pengembangan karier, maupun masa depan.

Saran itu kemudian menjadi motivasi bagi Khafidz untuk mulai mempelajari bahasa Mandarin secara mandiri.

Ia berusaha mengenal sistem penulisan, membaca karakter Mandarin, memahami nada pengucapan, hingga menghafalkan berbagai kosakata.

Namun, proses belajar tersebut tidak selalu mudah.

Sebagai santri yang tinggal di lingkungan pesantren, Khafidz harus mengikuti ketentuan penggunaan bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam kegiatan sehari-hari.

Di sisi lain, ia tidak memiliki guru khusus yang mendampinginya mempelajari bahasa Mandarin.

Keterbatasan akses penggunaan gawai juga menjadi tantangan tersendiri dalam mencari bahan pembelajaran.

Meski demikian, keinginannya menguasai bahasa tersebut tidak surut.

Khafidz kemudian menemukan teman yang memiliki ketertarikan serupa terhadap bahasa Mandarin.

Keduanya mulai belajar bersama, saling membantu memahami materi, sekaligus menjaga semangat untuk terus meningkatkan kemampuan.

Dapat Kesempatan Persiapan Kuliah ke China

Kesempatan untuk mengembangkan kemampuan bahasa Mandarin semakin terbuka ketika Khafidz memasuki kelas XII.

Saat itu, ia memperoleh tawaran dari LP Ma’arif NU Jawa Tengah untuk mengikuti program persiapan melanjutkan pendidikan tinggi ke China.

Melalui program tersebut, Khafidz bergabung dengan sejumlah pelajar asal Jawa Tengah yang memiliki keinginan melanjutkan studi ke luar negeri.

Berbeda dengan pengalaman belajar sebelumnya yang dilakukan secara mandiri, dalam program persiapan tersebut ia memperoleh bimbingan dari pengajar yang kompeten, termasuk penutur asli bahasa Mandarin.

Kesempatan ini dimanfaatkan Khafidz untuk memperkuat kemampuan berbahasa, terutama dalam aspek mendengar dan memahami percakapan.

Proses pembelajaran yang dijalani membantunya meningkatkan penguasaan bahasa Mandarin sebagai bekal menghadapi pendidikan di China.

Khafidz bersama sejumlah peserta lainnya kemudian berhasil lulus ujian sertifikasi bahasa Mandarin.

Hasil tersebut menjadi salah satu modal penting dalam mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi luar negeri.

Beasiswa Santri Jawa Tengah Bantu Ringankan Biaya Pendidikan

Di tengah proses persiapan keberangkatan ke China, Khafidz mendapatkan informasi mengenai program beasiswa santri yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui LFSP.

Setelah mempelajari persyaratan dan tahapan seleksi, ia memutuskan untuk mengikuti program tersebut.

Khafidz merasa pengalaman dan bekal pendidikan selama berada di pesantren dapat membantunya menghadapi proses seleksi.

Dengan persiapan yang telah dilakukan, ia mengikuti berbagai tahapan ujian yang menjadi bagian dari mekanisme penerimaan beasiswa.

Upayanya membuahkan hasil ketika ia dinyatakan lolos sebagai salah satu penerima bantuan pendidikan tersebut.

Kabar kelulusan itu pertama kali disampaikan oleh ibunya.

Khafidz mengaku sangat bersyukur karena kesempatan tersebut memberikan dukungan finansial yang berarti bagi dirinya dan keluarga.

Baginya, beasiswa santri Jawa Tengah untuk kuliah di luar negeri menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkannya melanjutkan studi tanpa menambah beban biaya pendidikan orang tua.

“Beasiswa Santri Jawa Tengah memudahkan saya dan teman-teman penerima lainnya dalam mengurangi beban finansial yang harus ditanggung oleh diri sendiri dan orang tua,” tuturnya.

Selain bantuan pendidikan, Khafidz juga mengakui besarnya peran keluarga, para ustaz, serta teman-teman pesantren dalam mendukung perjuangannya.

Dukungan tersebut menjadi sumber motivasi ketika ia menghadapi berbagai tantangan selama proses belajar dan mempersiapkan pendidikan ke luar negeri.

Kuliah di China, Khafidz Belajar Hidup Mandiri

Setelah berhasil memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan, Khafidz kini menjalani kehidupan sebagai mahasiswa internasional di Dalian University of Technology, China.

Ia mengambil jurusan Computer Science and Technology, bidang pendidikan yang berkaitan dengan ilmu komputer dan teknologi.

Kehidupan sebagai mahasiswa di luar negeri memberikan pengalaman berbeda dibandingkan kesehariannya selama tinggal di pesantren.

Ketika masih berada di pondok, Khafidz terbiasa menjalankan aktivitas bersama teman-temannya, mulai dari bangun tidur hingga melaksanakan ibadah secara berjamaah.

Namun, setelah berada di China, ia harus beradaptasi dengan kehidupan yang menuntut kemandirian lebih besar.

Berbagai kegiatan sehari-hari kini harus diatur dan dijalankan sendiri.

Perubahan tersebut menjadi bagian dari proses penyesuaian yang dilalui Khafidz selama menempuh pendidikan.

Di luar kegiatan akademik, ia juga memperoleh kesempatan berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara.

Pengalaman itu memperluas wawasannya mengenai kebiasaan, kehidupan, serta cara berpikir masyarakat dari latar belakang yang berbeda.

Khafidz juga mengikuti kegiatan pengembangan kemampuan di lingkungan kampus, termasuk aktivitas klub yang berkaitan dengan robotika.

Baginya, pengalaman belajar di luar negeri tidak hanya berhubungan dengan pencapaian akademik.

Kesempatan tersebut juga menjadi sarana membangun kemandirian, memperluas jaringan pertemanan, dan belajar menghargai perbedaan.

Khafidz berharap ilmu serta pengalaman yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di China kelak dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Happy Aisyi Madina Tempuh Pendidikan Kedokteran di Mesir

Kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri melalui beasiswa santri Jawa Tengah juga dirasakan Happy Aisyi Madina.

Aisyi saat ini menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Seperti Khafidz, ia memandang bantuan pendidikan yang diterimanya sebagai kesempatan berharga untuk meningkatkan kemampuan dan mempersiapkan masa depan.

Bagi Aisyi, menjadi penerima beasiswa merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Selain membantu membuka kesempatan belajar di perguruan tinggi luar negeri, beasiswa tersebut juga memberikan manfaat dalam meringankan beban finansial keluarganya.

Aisyi menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, khususnya pengurus LFSP, atas kesempatan pendidikan yang telah diberikan.

“Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada seluruh pengurus Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren Jawa Tengah atas kesempatan yang sangat berharga dan amanah besar yang telah diberikan kepada saya,” ungkap Aisyi.

Ia bertekad memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya selama menjalani pendidikan kedokteran di Mesir.

Tidak hanya berorientasi pada penyelesaian studi, Aisyi juga memiliki keinginan untuk kembali ke Jawa Tengah setelah lulus.

Ia berharap ilmu yang diperolehnya dari Fakultas Kedokteran Universitas Al-Azhar dapat menjadi bekal untuk mengabdikan diri kepada masyarakat.

Menurutnya, beasiswa tersebut bukan sekadar sarana memperoleh pendidikan tinggi, tetapi juga kesempatan mempersiapkan diri agar dapat memberikan manfaat setelah menyelesaikan studi.

Hari Santri Nasional, Aisyi Ajak Santri Berani Bermimpi Besar

Berkenaan dengan peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026, Aisyi menyampaikan pesan kepada para santri di seluruh Indonesia.

Ia mengajak santri untuk tidak merasa ragu memiliki cita-cita besar, termasuk keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Menurutnya, kesempatan untuk mengembangkan kemampuan harus dimanfaatkan dengan keberanian dan kesungguhan.

Aisyi meyakini bahwa selama cita-cita yang diperjuangkan berada di jalan yang diridai Allah SWT, setiap proses perlu dijalani dengan keyakinan.

Semangat tersebut menjadi bagian dari pengalamannya setelah memperoleh kesempatan menempuh pendidikan kedokteran di luar negeri.

Melalui kesempatan yang diterimanya, Aisyi berharap dapat mengembangkan kapasitas diri sekaligus mempersiapkan pengabdian kepada masyarakat pada masa mendatang.

Ahmad Luthfi: Jawa Tengah Miliki 5.400 Pondok Pesantren

Terpisah, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi para santri dalam kehidupan masyarakat.

Menurutnya, Jawa Tengah memiliki potensi besar dalam pengembangan sumber daya manusia berbasis pesantren.

Saat ini, terdapat sedikitnya 5.400 pondok pesantren di Jawa Tengah dengan jumlah santri mencapai sekitar 555 ribu orang.

Besarnya jumlah pesantren dan santri tersebut dinilai sebagai modal sosial yang penting untuk terus diperkuat.

Luthfi berharap pondok pesantren tidak hanya menjadi tempat pembelajaran ilmu agama, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang memiliki kemampuan di berbagai bidang.

Para santri diharapkan dapat mengembangkan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Selain memiliki kemampuan akademik, santri juga diharapkan tetap mempertahankan kepedulian sosial dan berkontribusi bagi masyarakat.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan potensi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menginisiasi program Pesantren Obah.

Program ini menjadi salah satu sarana pemerintah provinsi dalam memberikan dukungan pendidikan kepada santri maupun pengasuh pesantren.

Pemprov Jateng Siapkan Rp6,8 Miliar untuk Beasiswa Santri

Melalui program Pesantren Obah Pemprov Jawa Tengah 2026, pemerintah daerah menyiapkan dukungan pembiayaan pendidikan bagi kalangan pesantren.

Pada tahun 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengalokasikan anggaran sebesar Rp6,8 miliar untuk mendukung pendidikan santri di dalam maupun luar negeri.

Program beasiswa tersebut mendapatkan perhatian dari para santri yang ingin melanjutkan pendidikan.

Tercatat sebanyak 942 orang mendaftarkan diri untuk mengikuti program tersebut.

Dari proses seleksi yang dilaksanakan, sebanyak 15 santri dinyatakan lolos untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Negara tujuan pendidikan para penerima beasiswa tersebut meliputi Mesir, Yaman, dan Tiongkok.

Kesempatan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah provinsi membuka akses pendidikan bagi santri yang ingin mengembangkan kemampuan pada jenjang perguruan tinggi.

Selain mendukung pendidikan ke luar negeri, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap santri yang menempuh pendidikan tinggi di dalam negeri.

Beberapa hari sebelum peringatan Hari Santri Nasional, sebanyak 424 santri yang sedang menempuh pendidikan di Ma'had Aly juga mendapatkan bantuan beasiswa.

Tidak hanya itu, dukungan pendidikan turut diberikan kepada santri penggerak.

Kategori tersebut mencakup santri yang aktif mengikuti organisasi intra maupun ekstra kampus dan masih tinggal di lingkungan pesantren.

Melalui berbagai jenis bantuan tersebut, Pemprov Jawa Tengah berupaya memperluas kesempatan pendidikan sekaligus mendukung pengembangan kemampuan santri.

Pesantren Obah Diharapkan Lahirkan Santri Berdaya Saing

Pengembangan program beasiswa melalui Pesantren Obah menjadi bagian dari perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap peningkatan kualitas pendidikan pesantren.

Ahmad Luthfi berharap para santri memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan yang tidak terbatas pada bidang keagamaan.

Penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan berbagai keterampilan lainnya juga menjadi perhatian dalam mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi perkembangan zaman.

Kesempatan yang diperoleh Khafidz untuk mempelajari Computer Science and Technology di China serta Aisyi yang menempuh pendidikan kedokteran di Mesir menjadi contoh perjalanan pendidikan santri di bidang yang berbeda.

Keduanya memperoleh manfaat dari program beasiswa yang membantu mengurangi beban biaya pendidikan keluarga.

Di sisi lain, pengalaman pendidikan di luar negeri juga memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemandirian dan memperluas wawasan.

Melalui dukungan pendidikan tersebut, para santri diharapkan dapat memanfaatkan ilmu yang diperoleh untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Dengan potensi 5.400 pondok pesantren dan sekitar 555 ribu santri, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong penguatan pendidikan yang menghubungkan kemampuan keagamaan dengan ilmu pengetahuan serta keterampilan lainnya.

Program beasiswa dengan anggaran Rp6,8 miliar pada 2026 menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah bagi pengembangan sumber daya manusia di lingkungan pesantren.

Melalui kesempatan pendidikan di dalam maupun luar negeri, santri Jawa Tengah diharapkan mampu mengembangkan kapasitas diri, memiliki kepedulian sosial, serta berperan dalam menjawab berbagai tantangan masyarakat pada masa mendatang. (*)

Baca Juga Otomatis

Rekomendasi berdasarkan kategori dan tag berita ini.

Menampilkan semua halaman artikel.

Artikel Selanjutnya

Polines Edukasi Siswa SMAN 3 Salatiga tentang Risiko Investasi di Era Digital
Pendidikan • 16 Oktober 2026

Polines Edukasi Siswa SMAN 3 Salatiga tentang Risiko Investasi di Era Digital

Rekomendasi Redaksi