Konten Semarang
Regional

Pemprov Jateng Salurkan Tali Asih Rp 1 Juta bagi 2.000 Hafiz dan Beasiswa Santri

Pemprov Jateng memberikan tali asih Rp 1 juta bagi 2.000 hafiz serta memperluas beasiswa santri hingga perguruan tinggi luar negeri.

Pemprov Jateng Salurkan Tali Asih Rp 1 Juta bagi 2.000 Hafiz dan Beasiswa Santri
Pemprov Jateng Salurkan Tali Asih Rp 1 Juta bagi 2.000 Hafiz dan Beasiswa Santri

KONTENSEMARANG.COM - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperluas perhatian terhadap dunia pesantren melalui sejumlah program di bidang pendidikan dan keagamaan. 

Dukungan tersebut diwujudkan dalam bentuk bantuan bagi penghafal Al-Qur’an, insentif tenaga pendidik agama, hingga pemberian beasiswa untuk santri.

Sepanjang 2026, lebih dari 2.000 hafiz dan hafizah di Jawa Tengah telah memperoleh tali asih atau bisyarah senilai Rp 1 juta per orang. Bantuan ini diberikan sebagai penghargaan kepada santri yang berhasil menuntaskan hafalan Al-Qur’an.

Tidak hanya menyasar para penghafal Al-Qur’an, pemerintah provinsi juga memperluas kesempatan pendidikan bagi kalangan pesantren. Sejumlah program disiapkan untuk mendukung santri melanjutkan studi ke perguruan tinggi, termasuk memberikan peluang belajar di luar negeri.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyampaikan bahwa pemberian tali asih tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam mendukung keberlangsungan pondok pesantren sekaligus menghargai perjuangan para santri dalam menghafalkan Al-Qur’an.

“Ini bentuk apresiasi dan dukungan penuh terhadap keberadaan pondok pesantren. Santri yang telah mengkhatamkan Al-Qur’an mendapatkan tali asih sebesar Rp 1 juta per orang,” ujar Taj Yasin, dalam keterangannya, Minggu (1/11/2026).

Hal itu disampaikan Taj Yasin ketika menghadiri Haflah Khotmil Quran ke-XV, Qiro’ah Sab’ah, serta Haul KH M. Saifulloh dan Nyai Hj. Siti Mutmainah di halaman Pondok Pesantren Sabilul Huda, Tegaron, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Minggu (1/11/2026).

Ia menjelaskan, proses pencairan tali asih tersebut dibuat sederhana agar tidak membebani pihak pesantren. Pengelola pondok tidak diwajibkan mengajukan proposal untuk memperoleh bantuan.

Pesantren hanya perlu menyampaikan undangan kegiatan wisuda serta melampirkan bukti bahwa santri yang bersangkutan telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di bawah pengawasan kiai atau pembimbing.

Selain bantuan bagi penghafal Al-Qur’an, Pemprov Jateng juga mengembangkan berbagai dukungan untuk lingkungan pesantren melalui program Pesantren Obah. Program ini mencakup perhatian terhadap kiai, ustaz, guru agama, serta lembaga pendidikan keagamaan.

Kebijakan tersebut sekaligus menjadi kelanjutan dari program pemerintahan sebelumnya dengan sejumlah pengembangan untuk menjawab kebutuhan pendidikan di lingkungan pesantren.

“Kalau ada program yang sudah baik pada pemerintahan sebelumnya, kita lanjutkan. Yang masih kurang kita lengkapi. Termasuk apresiasi kepada anak-anak yang menghafalkan Al-Qur’an, insentif guru agama, dan sekarang kita tambahkan beasiswa bagi santri yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah,” jelasnya.

Untuk program beasiswa, Pemprov Jateng telah menjalin dukungan pendidikan dengan sejumlah perguruan tinggi.

Di antaranya UIN Walisongo Semarang, UIN Salatiga, Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), serta beberapa perguruan tinggi yang berada di lingkungan pesantren.

Kesempatan memperoleh pendidikan tinggi juga dibuka hingga tingkat internasional. Santri asal Jawa Tengah dapat melanjutkan studi ke sejumlah negara, seperti Yaman, Mesir, dan China melalui fasilitasi pemerintah provinsi.

Dukungan serupa diberikan kepada mahasiswa Ma’had Aly yang menempuh pendidikan di lingkungan pondok pesantren. Hingga kini, sebanyak 420 mahasantri tercatat telah menerima fasilitas beasiswa sampai menyelesaikan pendidikan.

Pemprov Jateng juga memperhatikan peningkatan kapasitas tenaga pendidik dengan membuka program beasiswa bagi guru madrasah yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Saat ini, tahapan rekrutmen dan seleksi calon penerima bantuan pendidikan tersebut masih berjalan.

Taj Yasin menambahkan, pemberian beasiswa tidak hanya dimaksudkan untuk membantu santri memperoleh pendidikan tinggi. Program tersebut juga diharapkan mampu mencetak sumber daya manusia berkualitas yang nantinya dapat memperkuat perkembangan pondok pesantren.

Oleh karena itu, para penerima beasiswa diharapkan kembali ke lingkungan pesantren setelah menyelesaikan studi untuk membagikan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh.

Bentuk kontribusi tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pesantren maupun arahan para kiai.

Para lulusan bisa mengambil peran sebagai pengajar, membantu mengembangkan usaha dan UMKM pesantren, atau memberikan pelayanan kepada masyarakat berdasarkan bidang keahlian mereka.

Menurut Taj Yasin, ruang pendidikan bagi santri kini semakin luas dan tidak hanya berorientasi pada ilmu keagamaan. Mereka juga memiliki peluang untuk mempelajari berbagai bidang akademik, mulai dari teknik, kedokteran, hingga disiplin ilmu lainnya.

Dalam kesempatan itu, Taj Yasin turut mengingatkan para wisudawan agar keberhasilan menghafalkan Al-Qur’an diikuti dengan komitmen menjaga dan memuliakan kitab suci tersebut.

Hal itu dapat diwujudkan melalui bacaan yang baik, pemahaman terhadap kandungannya, serta penerapan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga berharap ilmu yang diperoleh para santri Pondok Pesantren Sabilul Huda menjadi ilmu yang membawa keberkahan dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. (*)

Baca Juga Otomatis

Rekomendasi berdasarkan kategori dan tag berita ini.

Menampilkan semua halaman artikel.

Artikel Selanjutnya

Pemprov Jateng meraih rekor MURI dengan 31.032,44 liter minyak jelantah dari 60.680 pegawai. Gerakan ini telah melibatkan 35 kabupaten/kota.
Regional • 02 November 2026

Pemprov Jateng Raih Rekor MURI, Kumpulkan 31 Ribu Liter Minyak Jelantah

Rekomendasi Redaksi