Semarang Masuk 3 Besar Kota Toleran 2025, Bukti Konsistensi Jaga Keberagaman
KONTENSEMARANG.COM – Kota Semarang kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan menempati peringkat ketiga dalam Peluncuran Indeks Kota Toleran (IKT) 2025.
Pencapaian ini semakin menegaskan posisi Semarang sebagai salah satu kota dengan tingkat toleransi terbaik di Indonesia.
Penghargaan dari SETARA Institute tersebut diberikan kepada Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, yang diwakili Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Semarang, Bambang Pramusinto, dalam acara yang digelar di Jakarta, Rabu (22/4).
Penilaian IKT sendiri dilakukan terhadap 94 kota di Indonesia dan menjadi acuan penting dalam mengukur tingkat kebebasan beragama serta inklusivitas sosial di berbagai daerah.
"Terima kasih kepada SETARA Institute atas kepercayaan ini, sehingga Kota Semarang kembali menjadi bagian dari kota dengan skor toleransi tertinggi di Indonesia. Bagi kami ini bukan garis akhir, melainkan pengingat bahwa merawat keberagaman adalah kerja yang tidak pernah selesai," ungkap Agustina.
Prestasi tahun 2025 ini melanjutkan tren positif Kota Semarang yang konsisten berada di jajaran kota tertoleran dalam lima tahun terakhir.
Berdasarkan catatan, peringkat Semarang terus mengalami peningkatan, dari posisi ke-12 pada 2021, naik ke peringkat 7 di 2022, kemudian ke posisi 5 pada 2023, hingga akhirnya mencapai peringkat 3 pada 2024.
Hal ini menunjukkan komitmen kuat Pemerintah Kota Semarang dalam menghadirkan kebijakan yang inklusif bagi seluruh masyarakat.
"Keberagaman dan toleransi kami ibaratkan seperti bunga yang tumbuh di taman kota. Ia tidak perlu diminta untuk indah, tidak perlu dipuji untuk harum. Ia tetap mekar, memberi warna, dan menghidupkan ruang di sekitarnya. Dan tugas kami adalah memastikan taman itu tetap terawat," lanjutnya.
Menurut Agustina, nilai toleransi di Semarang bukan sekadar simbol atau kegiatan seremonial, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Interaksi harmonis antarumat beragama serta kebijakan yang terbuka menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas sosial di kota ini.
"Di kota Semarang, toleransi tidak menunggu panggung dan event. Ia hidup di kampung-kampung, di ruang ibadah, di ruang publik dan laku keseharian warga kami. Maka penghargaan ini kami persembahkan untuk seluruh warga Kota Semarang," tegas Agustina.
Penghargaan ini diharapkan mampu mendorong seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, komunitas lintas iman, hingga generasi muda, untuk terus memperkuat kolaborasi dalam menjaga keharmonisan.
Dengan semangat menjadikan Semarang sebagai rumah bersama yang aman dan nyaman, pemerintah berkomitmen menjaga keberagaman sebagai fondasi masa depan kota yang damai dan berkelanjutan. (*)
redaksi