Ia mengingatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu dilakukan melalui kegiatan besar ataupun di hadapan banyak orang.
Tindakan sederhana yang dijalankan secara konsisten dengan penuh tanggung jawab juga menjadi bagian dari upaya menjaga kehidupan bersama.
Karena itu, pekerjaan para petugas lapangan yang tetap menjalankan tugas dalam berbagai situasi sulit patut dipandang sebagai bentuk pengabdian terhadap masyarakat.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan Agustina dalam peringatan ke-81 Pertempuran Lima Hari di Semarang, yang tidak hanya diarahkan untuk mengenang peristiwa masa lalu, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Pertempuran Lima Hari Diisi Drama Kolosal
Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang tahun 2026 diselenggarakan melalui sejumlah rangkaian kegiatan yang mengangkat kembali sejarah perjuangan masyarakat.
Acara yang berlangsung di kawasan Tugu Muda diawali dengan pelaksanaan upacara bendera.
Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan pembacaan cukilan sejarah oleh Drs. Stephanus Sukirno, MS.
Pembacaan tersebut menjadi bagian dari kegiatan mengenang kembali peristiwa pertempuran yang berlangsung pada 14–18 Oktober 1945.
Selain upacara dan pembacaan sejarah, peringatan tahun ini juga menghadirkan pertunjukan drama kolosal teatrikal sejarah.
Pementasan tersebut melibatkan Untag dan Teater Pitoelas sebagai bagian dari rangkaian acara untuk mengenang perjuangan para pendahulu.