Lebih dari sekadar karya yang mengungkapkan perasaan individu, Agustina melihat puisi sebagai media untuk membicarakan berbagai sisi kehidupan.
Melalui karya sastra, seseorang dapat menyampaikan pengalaman, menggambarkan kondisi sosial, hingga mengutarakan harapan terhadap masa depan.
Ia juga menilai sastra mampu memperluas cara pandang seseorang dalam memahami kehidupan. Karya puisi dapat mengajak pembaca mengenali pengalaman orang lain dari perspektif berbeda, sekaligus menjadi sarana menyampaikan aspirasi dan menumbuhkan kepedulian terhadap persoalan sosial.
Selain pengembangan kegiatan sastra, Agustina turut menekankan pentingnya menghadirkan ruang seni yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Ia memberikan apresiasi terhadap keikutsertaan penyandang disabilitas dalam kegiatan pembacaan puisi tersebut.
Ke depan, ia berharap pengembangan layanan Rumah Inspirasi di tingkat kecamatan juga dapat dimanfaatkan sebagai wadah bagi penyandang disabilitas untuk menyalurkan minat dan mengasah kemampuan di bidang seni.
“Cita-cita inklusif tidak bisa hanya dikerjakan pemerintah. Kita membutuhkan keterlibatan masyarakat dan ruang-ruang perjumpaan yang memungkinkan semua orang berpartisipasi. Saya berharap seni, termasuk puisi, juga menjadi bagian dari ruang yang dapat dinikmati dan dikembangkan oleh semua kalangan,” pungkasnya. (*)