"Pesantren butuh dokter, pesantren butuh usaha pertanian dan lain sebagainya," ujarnya.
Karena itu, penerima beasiswa diharapkan mengembangkan kompetensi yang tidak hanya berguna untuk pengembangan diri, tetapi juga dapat diterapkan untuk memajukan pesantren dan lingkungan masyarakat.
Taj Yasin menyebut salah satu bentuk komitmen penerima beasiswa adalah kesediaan untuk kembali ke pesantren yang memberikan rekomendasi setelah menyelesaikan pendidikan.
"Ketika mereka dikembalikan ke pesantrennya masing-masing, salah satu MOU antara penerima beasiswa dengan kami adalah mereka siap untuk dikembalikan ke pesantrennya yang memberikan rekomendasi untuk berkontribusi," katanya.
Menurutnya, pola tersebut diperlukan agar program beasiswa pemerintah memberikan manfaat jangka panjang.
Para santri tidak hanya menjadi penerima bantuan pendidikan, tetapi juga dipersiapkan menjadi sumber daya manusia yang dapat mengembangkan pesantren dan masyarakat di sekitarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memperluas kerja sama pendidikan dengan menandatangani nota kesepahaman bersama 25 Ma'had Ali atau perguruan tinggi berbasis pesantren.
Taj Yasin menyebut kerja sama tersebut menjadi langkah untuk memperluas akses beasiswa bagi santri sekaligus memperkuat hubungan antara pemerintah, pesantren, dan perguruan tinggi.
Untuk program beasiswa Ma'had Ali, mekanisme seleksi penerima akan menggunakan pola yang berbeda.
Setelah kerja sama disepakati, proses seleksi dapat melibatkan pihak-pihak yang berkaitan langsung dengan pesantren.