Selain memberikan perlindungan terhadap kawasan pesisir, ekosistem mangrove juga menyimpan peluang ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.
Satyawan mencontohkan buah tancang yang dapat diolah menjadi tepung sebagai bahan dasar pembuatan berbagai produk makanan, termasuk kue.
Potensi tersebut dinilai perlu dikembangkan melalui pendampingan agar masyarakat mampu mengolah hasil mangrove menjadi produk bernilai tambah.
"Misalnya dengan ekowisata, lalu ada tadi Pak Lurah mengatakan buah tancang yang bisa digunakan untuk tepung, lalu tepung dibuat untuk kue dan lain sebagainya. Nah, tentu potensi-potensi ekonomi ini harus kita gali dengan pendampingan yang kita lakukan secara terus-menerus dari Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional," jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan pemulihan mangrove tidak hanya ditentukan oleh kegiatan penanaman bibit. Proses perawatan dan pemeliharaan harus dilakukan secara konsisten agar tanaman dapat tumbuh optimal dan memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.
Untuk itu, BPGMN berencana memperkuat pendampingan kepada masyarakat, mulai dari proses penanaman, pemeliharaan, hingga pengembangan usaha ekonomi yang memanfaatkan potensi mangrove.
"Jadi, bukan hanya lingkungan yang baik, tetapi juga ekonomi yang baik," tegas Prof. Satyawan.
Senada dengan hal tersebut, Mayjen TNI Sriyanto menegaskan bahwa upaya menjaga dan memulihkan ekosistem mangrove harus disertai pemberdayaan masyarakat.
Partisipasi warga menjadi faktor penting agar program perlindungan lingkungan dapat berjalan berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir. (*)