KONTENSEMARANG.COM – Sebanyak 282 siswa kelas VII SMP Negeri 21 Semarang mengikuti kegiatan outing class di Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Selasa (13/10/2026). Melalui kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan pembelajaran langsung mengenai kepedulian lingkungan, pemilahan sampah, hingga pemanfaatan limbah organik menjadi produk yang bermanfaat.
Kegiatan edukasi yang diselenggarakan DLH Kota Semarang itu tidak hanya memberikan pengetahuan melalui penyampaian materi. Para siswa juga diajak mengikuti praktik pengolahan sampah organik, mengenal pemanfaatan maggot, membuat ecoenzym, serta mempelajari cara menanam pohon.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, Safrinal Sofaniadi, menjelaskan bahwa kegiatan yang berlangsung selama satu hari tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan mengelola sampah dengan benar.
Menurutnya, edukasi lingkungan perlu diberikan kepada pelajar agar mereka memahami perbedaan jenis sampah sekaligus mengetahui cara memanfaatkan limbah yang masih dapat diolah.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa diperkenalkan dengan pemilahan sampah organik dan anorganik, pengolahan sampah menjadi pupuk, serta penggunaan lubang biopori sebagai salah satu metode penguraian limbah organik.
Siswa SMPN 21 Semarang Belajar Mengolah Sampah Organik
Safrinal menjelaskan, salah satu materi yang diberikan kepada peserta berkaitan dengan pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos dan ecoenzym.
Siswa juga diperkenalkan dengan metode pengolahan limbah menggunakan lubang biopori, yakni dengan memasukkan bahan organik ke dalam tanah untuk mengalami proses penguraian selama beberapa bulan.
Selain itu, peserta mendapatkan penjelasan mengenai pemanfaatan maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF) dalam mengolah limbah organik.
"Kalau sampah organik kami berikan pengenalan bisa dibuat pupuk kompos, pupuk ecoenzym, sampai pembuatan pupuk dari sampah organik menggunakan lubang biopori yang dimasukkan ke dalam tanah sampai beberapa bulan hingga terurai. Mereka juga kami kenalkan dengan jenis hewan maggot sebagai komposer utama limbah organik, salah satunya bisa untuk pengurangan sampah dari sisa makanan yag tidak habis program MBG di sekolah," katanya.
Menurut Safrinal, pengenalan berbagai metode tersebut bertujuan memberikan gambaran kepada siswa bahwa sampah organik dapat dikelola dan dimanfaatkan kembali.
Salah satu contoh yang diperkenalkan adalah penggunaan maggot untuk membantu mengurai sisa makanan, termasuk limbah makanan yang tidak habis dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.
Melalui pembelajaran tersebut, peserta mendapatkan pengetahuan mengenai alternatif pengelolaan sampah organik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sempat Jijik, Siswa Dikenalkan dengan Maggot Pengurai Sampah
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian siswa adalah pengenalan maggot sebagai organisme yang dapat dimanfaatkan untuk mengolah limbah organik.
Safrinal mengungkapkan bahwa tidak semua siswa langsung berani menyentuh maggot saat pertama kali melihatnya.
Beberapa peserta menunjukkan rasa penasaran dan berani memegang maggot, sementara sebagian lainnya merasa jijik karena belum terbiasa dengan bentuk larva tersebut.
Menurutnya, reaksi yang berbeda-beda itu merupakan hal yang wajar mengingat maggot masih menjadi sesuatu yang baru bagi sebagian peserta.
"Pas baru melihat langsung maggot reaksinya bermacam macam ada yang berani dan ada yang jijik pegang karena sekilas lava maggot memang bentuknya kayak belatung atau ulat hongkong. Padahal maggot berasal dari Black Soldier Flay (BSF), dimanfaatkan untuk mengolah limbah organik paling efektif. Karena tidak butuh waktu lama sisa makanan organik yang diberikan kepada maggot bisa langsung habis dimakan," imbuhnya.
Dalam praktik pengelolaan limbah, maggot BSF diperkenalkan kepada siswa karena kemampuannya mengonsumsi bahan organik, termasuk sisa makanan.
Pengenalan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mengenai berbagai cara mengurangi timbunan sampah yang berasal dari aktivitas sehari-hari.
Siswa juga memperoleh gambaran bahwa limbah makanan yang biasanya dibuang dapat dimanfaatkan melalui metode pengolahan yang sesuai.
DLH Semarang Ajarkan Pembuatan Ecoenzym dari Sisa Dapur
Selain mempelajari pemanfaatan maggot, siswa SMPN 21 Semarang mengikuti kegiatan pengenalan pembuatan ecoenzym dari bahan organik rumah tangga.
Materi pengolahan sampah organik menjadi kompos dan ecoenzym menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan edukasi lingkungan tersebut.
Safrinal menjelaskan, bahan yang digunakan dalam pembuatan ecoenzym berasal dari sisa dapur, seperti kulit buah-buahan dan sayuran.
Bahan organik tersebut dipotong menjadi bagian-bagian kecil, kemudian dicampurkan dengan air dan molase atau gula merah.
Campuran itu selanjutnya memerlukan proses fermentasi sebelum menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan.
Mengingat proses fermentasi membutuhkan waktu hingga beberapa bulan, siswa tidak dapat menyaksikan keseluruhan tahapan sampai produk selesai dalam kegiatan yang hanya berlangsung satu hari.
Karena itu, petugas DLH memberikan contoh hasil ecoenzym yang sudah melalui proses fermentasi agar peserta mengetahui bentuk produk akhirnya.
"Lalu, kita kasih contoh hasilnya kepada siswa yang sudah jadi melalui proses fermentasi. Karena kalau melihat sampai jadi pas praktiknya gak mungkin yang harus menunggu beberapa bulan lagi," paparnya.
Melalui praktik tersebut, siswa mendapatkan pengalaman mengenali bahan dan tahapan dasar pengolahan limbah dapur.
Pembelajaran ini juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pemanfaatan sampah organik yang dapat dilakukan di lingkungan rumah maupun sekolah.
DLH Serahkan Lima Bibit Pohon Asam untuk SMPN 21 Semarang
Tidak hanya memberikan edukasi mengenai pengelolaan sampah, DLH Kota Semarang turut mengenalkan pentingnya penghijauan lingkungan kepada para peserta.
Dalam kegiatan itu, DLH menyerahkan lima bibit pohon asam kepada perwakilan SMPN 21 Semarang.
Bibit tersebut diterima oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 21 Semarang, Ariyanto.
Menurut Safrinal, pemilihan pohon asam memiliki keterkaitan dengan identitas Kota Semarang.
Bibit yang diserahkan nantinya dapat ditanam di lingkungan sekolah sebagai bagian dari penerapan materi yang telah diberikan selama kegiatan.
"Pohon Asam yang kami berikan karena pohon Asam sudah menjadi identitas kota Semarang. Nantinya bisa ditanam di sekolah, setelah dibekali cara penanaman pohon dari sini, bisa langsung mempraktikkannya," katanya.
Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai pengelolaan limbah, tetapi juga dibekali pengetahuan tentang penanaman pohon.
DLH berharap materi yang diterima dapat diterapkan langsung oleh siswa ketika kembali ke lingkungan sekolah.
Siswa Diharapkan Menularkan Pengetahuan kepada Keluarga
Safrinal berharap kegiatan outing class dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan tidak berhenti setelah kunjungan selesai.
Menurutnya, pengetahuan mengenai pengelolaan sampah dan kepedulian lingkungan yang diperoleh siswa dapat dibagikan kepada orang lain.
Di lingkungan rumah, peserta diharapkan mampu mempraktikkan materi yang telah diberikan sekaligus mengenalkannya kepada anggota keluarga.
Sementara di sekolah, siswa dapat berbagi pengalaman kepada teman maupun kakak kelas mengenai cara memilah dan memanfaatkan sampah organik.
"Ilmunya bisa dipraktikkan di rumah, diajarkan ke kakak -adik sehingga bisa bermanfaat. Atau di sekolah, ditularkan kepada teman atau kakak kelas juga, agar contoh praktik baik ini bisa diceritakan dan disebar kepada orang lain," lanjutnya.
Melalui pendekatan tersebut, kegiatan edukasi diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan peserta, tetapi juga mendorong penerapan kebiasaan menjaga lingkungan di tempat tinggal masing-masing.
Pemilahan Sampah di Sekolah Masih Perlu Ditingkatkan
Selain memperkenalkan metode pengolahan limbah, Safrinal turut mengingatkan pentingnya membiasakan pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Menurut informasi yang diterimanya, SMPN 21 Semarang sebenarnya telah memiliki tempat sampah terpisah untuk sampah organik dan anorganik.
Namun, penerapan pemilahan tersebut dinilai masih perlu ditingkatkan karena ditemukan adanya sampah yang tercampur meskipun sudah tersedia wadah berbeda.
Safrinal mencontohkan, tempat sampah berwarna hijau diperuntukkan bagi limbah organik, sedangkan tempat sampah kuning digunakan untuk sampah anorganik.
Dalam praktiknya, sampah seperti daun dan plastik masih dapat ditemukan bercampur dalam wadah yang seharusnya digunakan secara terpisah.
"Jadi meski warna tong sebenarnya sudah dibedakan yaitu hijau untuk sampah organik dan kuning untuk sampah anorganik tapi isinya masih bercampur antara sampah daun dan plastik misalnya. Sebab, dengan menjaga kebersihan, bisa membuat nyaman lingkungan sekolah, dan terhindar dari penyakit. Sehingga kami tekankan lagi pentingnya menjaga kebersihan lingkungan mulai di lingkungan sekitar, yaitu sekolah maupun rumah masing -masing," bebernya.
Menurutnya, menjaga kebersihan tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat sampah. Siswa juga perlu memahami cara membuang sampah sesuai jenisnya.
Kebiasaan tersebut perlu diterapkan secara konsisten, baik di lingkungan sekolah maupun rumah.
Melalui edukasi pemilahan sampah untuk siswa SMPN 21 Semarang, DLH kembali menekankan bahwa kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
DLH Dorong Sekolah Perbanyak Edukasi Peduli Lingkungan
Safrinal mengajak pihak sekolah dan masyarakat terus meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan melalui berbagai kegiatan edukatif.
Menurutnya, kegiatan kunjungan belajar seperti outing class dapat menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan praktik pengelolaan sampah secara langsung kepada pelajar.
Pengalaman tersebut diharapkan membuat siswa lebih memahami pentingnya menjaga kebersihan daripada hanya menerima penjelasan secara teori.
Selain belajar memilah sampah, para peserta juga dapat mengenali berbagai metode pengolahan limbah organik yang memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
DLH Kota Semarang berharap pengetahuan tersebut dapat terus diterapkan dan disebarluaskan, sehingga kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya tumbuh pada peserta kegiatan, tetapi juga orang-orang di sekitarnya.
"Kalau bukan kita siapa lagi generasi penerus yang akan peduli lingkungan. Untuk itu kami mendorong pihak sekolah maupun masyarakat umum untuk terus bersama -sama menjaga lingkungan melalui edukasi maupun kegiatan outing class sekolah semacam ini," pungkasnya.
Melalui kegiatan yang diikuti 282 siswa tersebut, DLH Kota Semarang berupaya menanamkan pemahaman tentang pentingnya menjaga kebersihan serta mengelola limbah sejak usia sekolah.
Mulai dari pemilahan sampah, pembuatan kompos dan ecoenzym, pemanfaatan maggot, hingga penanaman bibit pohon asam, seluruh rangkaian kegiatan diarahkan untuk memberikan pengalaman belajar yang dapat diterapkan peserta.
Pembiasaan mengelola sampah organik dan anorganik dengan benar diharapkan dapat dimulai dari lingkungan terdekat, yakni rumah dan sekolah, kemudian diteruskan melalui kepedulian bersama terhadap kebersihan lingkungan. (*)