Salah satu contoh yang diperkenalkan adalah penggunaan maggot untuk membantu mengurai sisa makanan, termasuk limbah makanan yang tidak habis dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah.
Melalui pembelajaran tersebut, peserta mendapatkan pengetahuan mengenai alternatif pengelolaan sampah organik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sempat Jijik, Siswa Dikenalkan dengan Maggot Pengurai Sampah
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian siswa adalah pengenalan maggot sebagai organisme yang dapat dimanfaatkan untuk mengolah limbah organik.
Safrinal mengungkapkan bahwa tidak semua siswa langsung berani menyentuh maggot saat pertama kali melihatnya.
Beberapa peserta menunjukkan rasa penasaran dan berani memegang maggot, sementara sebagian lainnya merasa jijik karena belum terbiasa dengan bentuk larva tersebut.
Menurutnya, reaksi yang berbeda-beda itu merupakan hal yang wajar mengingat maggot masih menjadi sesuatu yang baru bagi sebagian peserta.
"Pas baru melihat langsung maggot reaksinya bermacam macam ada yang berani dan ada yang jijik pegang karena sekilas lava maggot memang bentuknya kayak belatung atau ulat hongkong. Padahal maggot berasal dari Black Soldier Flay (BSF), dimanfaatkan untuk mengolah limbah organik paling efektif. Karena tidak butuh waktu lama sisa makanan organik yang diberikan kepada maggot bisa langsung habis dimakan," imbuhnya.
Dalam praktik pengelolaan limbah, maggot BSF diperkenalkan kepada siswa karena kemampuannya mengonsumsi bahan organik, termasuk sisa makanan.
Pengenalan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mengenai berbagai cara mengurangi timbunan sampah yang berasal dari aktivitas sehari-hari.
Siswa juga memperoleh gambaran bahwa limbah makanan yang biasanya dibuang dapat dimanfaatkan melalui metode pengolahan yang sesuai.