DLH Semarang Ajarkan Pembuatan Ecoenzym dari Sisa Dapur
Selain mempelajari pemanfaatan maggot, siswa SMPN 21 Semarang mengikuti kegiatan pengenalan pembuatan ecoenzym dari bahan organik rumah tangga.
Materi pengolahan sampah organik menjadi kompos dan ecoenzym menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan edukasi lingkungan tersebut.
Safrinal menjelaskan, bahan yang digunakan dalam pembuatan ecoenzym berasal dari sisa dapur, seperti kulit buah-buahan dan sayuran.
Bahan organik tersebut dipotong menjadi bagian-bagian kecil, kemudian dicampurkan dengan air dan molase atau gula merah.
Campuran itu selanjutnya memerlukan proses fermentasi sebelum menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan.
Mengingat proses fermentasi membutuhkan waktu hingga beberapa bulan, siswa tidak dapat menyaksikan keseluruhan tahapan sampai produk selesai dalam kegiatan yang hanya berlangsung satu hari.
Karena itu, petugas DLH memberikan contoh hasil ecoenzym yang sudah melalui proses fermentasi agar peserta mengetahui bentuk produk akhirnya.
"Lalu, kita kasih contoh hasilnya kepada siswa yang sudah jadi melalui proses fermentasi. Karena kalau melihat sampai jadi pas praktiknya gak mungkin yang harus menunggu beberapa bulan lagi," paparnya.
Melalui praktik tersebut, siswa mendapatkan pengalaman mengenali bahan dan tahapan dasar pengolahan limbah dapur.
Pembelajaran ini juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pemanfaatan sampah organik yang dapat dilakukan di lingkungan rumah maupun sekolah.