Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam penggunaan bus listrik adalah kemampuan kendaraan mempertahankan performa baterai selama menjalani aktivitas harian.
Bus listrik Trans Semarang tersebut memiliki baterai berkapasitas 340 kWh dengan kemampuan jarak tempuh hingga sekitar 250 kilometer.
Dengan daya tersebut, bus dapat menjalankan aktivitas operasional tanpa harus melakukan pengisian ulang di tengah perjalanan selama jarak tempuh yang tersedia masih mencukupi. Pengisian baterai dapat dilakukan sebelum kendaraan kembali digunakan.
“Untuk menjaga kesehatan baterai, jangan sampai pemakaian baterai hingga habis. Minimal harus ada sisa 1-20 persen, sudah diisi ulang,” jelas Stefan.
Sebanyak 27 bus listrik hasil kerja sama VKTR dan Laksana menjadi bagian dari program peremajaan armada Trans Semarang pada 2026. Penambahan kendaraan listrik tersebut dilakukan untuk mendukung peningkatan kualitas layanan transportasi publik.
Armada baru tersebut dijadwalkan mulai beroperasi secara bertahap pada 25 September 2026. Pengoperasian awal akan dilakukan di Koridor I yang melayani rute Terminal Mangkang hingga Terminal Penggaron.
Seluruh armada ditargetkan dapat beroperasi secara penuh sebelum penghujung 2026. Bus low deck tersebut memiliki kapasitas hingga 60 penumpang dan dirancang dengan akses yang lebih mudah bagi penyandang disabilitas serta masyarakat dengan mobilitas terbatas.
Selain tidak menghasilkan emisi gas buang secara langsung ketika digunakan, kendaraan listrik juga menawarkan tingkat kebisingan yang lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional berbahan bakar.
Peluncuran armada bus listrik dilakukan oleh Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng bersama Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin dan jajaran Pemerintah Kota Semarang.
Agustina turut mencoba langsung bus listrik tersebut dengan berkeliling di kawasan Balai Kota Semarang. Ia juga melihat berbagai fasilitas yang tersedia di dalam armada baru tersebut.