Sinergi Teknologi Pangan dan Agribisnis, UDB Dorong Mahasiswa Jadi Agropreneur

Sinergi Teknologi Pangan dan Agribisnis, UDB Dorong Mahasiswa Jadi Agropreneur
Sinergi Teknologi Pangan dan Agribisnis, UDB Dorong Mahasiswa Jadi Agropreneur

KONTENSEMARANG.COM — Di tengah tantangan ketahanan pangan global, Universitas Duta Bangsa (UDB) menghadirkan ruang diskusi yang tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga solusi konkret melalui kuliah umum Food Tech Talk.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Program Studi Teknologi Rekayasa Pangan dan Agribisnis UDB bersama Himpunan Mahasiswa Agribisnis dan HMP Terpang pada Rabu, 15 April 2024.

Sebanyak 100 mahasiswa dari berbagai program studi, khususnya Teknologi Rekayasa Pangan dan Agribisnis, turut ambil bagian dalam kegiatan yang berlangsung di Ruang Teater kampus Nusukan, Surakarta. Antusiasme peserta terlihat sepanjang acara.

Melalui forum ini, mahasiswa diajak memahami bahwa persoalan pangan di Indonesia tidak hanya berkutat pada produksi, melainkan mencakup keseluruhan sistem dari hulu hingga hilir.

Owner KUB Marta Tirtorejo Wonogiri, Edi Prayitno, membagikan pengalaman nyata bahwa komoditas singkong yang semula hanya dihargai Rp 500 per kilogram dapat diolah menjadi mocaf dengan nilai jual mencapai puluhan ribu rupiah berkat inovasi.

“Namun, di balik potensi besar tersebut, terdapat kenyataan yang tidak bisa diabaikan,” ungkap Edi Prayitno.

Sementara itu, Guru Besar UNS Prof. Dr. Ir. Mohamad Harisudin, M.Si menyoroti berbagai paradoks yang masih membayangi sektor pertanian nasional.

“Kesenjangan antara sektor hulu (petani) dan hilir (industri pangan) menjadi salah satu akar masalah. Petani sering berada pada posisi lemah dalam rantai pasok, sementara industri menghadapi keterbatasan bahan baku yang stabil dan berkualitas,” papar Prof. Dr. Ir. Mohamad Harisudin, M.Si.

Di sisi lain, Retna Dewi Lestari, SP., M.Si menegaskan bahwa persoalan pangan tidak hanya terkait produksi, tetapi juga belum optimalnya integrasi sistem agribisnis dari hulu hingga hilir, sehingga peningkatan produksi belum tentu diikuti kenaikan nilai ekonomi.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa juga didorong untuk bertransformasi menjadi agropreneur, tidak sekadar pencari kerja, tetapi mampu menciptakan produk pangan inovatif, memperkuat branding, memanfaatkan digital marketing, serta mengoptimalkan teknologi untuk memperpendek rantai distribusi.

Kegiatan yang dipimpin Ketua Panitia Bimo Sefrianto, SP., M.Si ini turut didukung Kaprodi Teknologi Rekayasa Pangan Laela Nur Rokhmah, S.TP., M.Sc dan Kaprodi Agribisnis Rahmawati Setiyani, S.Hut., M.Sc. Food Tech Talk pun menjadi wujud nyata sinergi akademik dalam menjawab tantangan masa depan pangan. (*)