Melalui Program Pandu Tangguh, pemerintah berharap keberadaan kader Posyandu dapat semakin dimanfaatkan untuk membantu warga memperoleh layanan yang dibutuhkan.
Selain peluncuran program, rapat koordinasi juga diisi dengan pemberian apresiasi kepada sejumlah Posyandu tingkat kabupaten/kota, desa, dan kelurahan.
Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi dan inovasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Kegiatan ini sekaligus menjadi forum untuk memperkuat koordinasi Tim Pembina Posyandu dari seluruh wilayah Jawa Tengah.
Pengelolaan Lingkungan dan Pelayanan Sosial Terus Diperkuat
Keberhasilan pengumpulan 31.032,44 liter minyak jelantah dari 60.680 ASN dan pegawai BUMD menjadi salah satu hasil gerakan pengelolaan limbah yang dijalankan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Penghargaan MURI yang diterima dalam rapat koordinasi Posyandu tersebut diharapkan menjadi dorongan untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam menangani limbah rumah tangga.
Melalui kerja sama dengan dunia usaha, pemerintah juga menyiapkan inovasi mesin ATM biodrop yang memungkinkan minyak jelantah disetorkan dan memiliki nilai ekonomi.
Di sisi lain, penguatan peran Posyandu melalui Program Pandu Tangguh menjadi langkah untuk mendekatkan layanan perlindungan sosial kepada masyarakat, terutama kelompok rentan.
Kolaborasi dengan Universitas Diponegoro juga diarahkan untuk mendukung pengembangan layanan kesehatan mental melalui kegiatan akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
Dengan lebih dari 20.000 unit Posyandu yang telah terdata, Jawa Tengah memiliki jaringan pelayanan masyarakat yang diharapkan dapat terus diperkuat.