Negara itu telah berkembang menjadi salah satu kekuatan utama industri galangan kapal dunia, memiliki pelabuhan internasional seperti Busan, mengoperasikan kereta cepat Korea Train Express (KTX), serta membangun sistem transportasi perkotaan yang terintegrasi.
Pengalaman tersebut tidak berarti seluruh model pembangunan Korea dapat diterapkan begitu saja di Indonesia. Karakter geografis, kondisi sosial, kemampuan pembiayaan, dan kebutuhan masyarakat kedua negara tentu berbeda.
Namun, justru dari perbedaan itulah peluang kerja sama dapat dibangun.
Indonesia membutuhkan peningkatan kemampuan teknologi dan efisiensi transportasi. Korea Selatan memiliki pengalaman dan kapasitas industri yang dapat menjadi mitra dalam proses pengembangannya.
Ketika kebutuhan pembangunan bertemu dengan kemampuan teknologi dan pengalaman industri, terbuka kesempatan untuk membentuk kemitraan yang memberikan manfaat bagi kedua pihak.
Kesepakatan Strategis Harus Menghasilkan Kerja Sama Nyata
Fondasi penguatan hubungan Indonesia dan Korea Selatan telah dibangun melalui sejumlah kesepakatan yang diumumkan dalam kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo pada 1 April 2026.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara melakukan pertukaran sepuluh nota kesepahaman yang mencakup berbagai bidang strategis.
Beberapa di antaranya berkaitan dengan pembentukan Dialog Strategis Komprehensif Khusus, kerja sama ekonomi 2.0, kemitraan mineral kritis, serta pengembangan sektor digital.
Pernyataan bersama kedua pemimpin juga memuat pembentukan Dialog Maritim Strategis yang dipimpin bersama oleh Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Korea Selatan serta Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia.
Forum tersebut memiliki arti penting karena pembahasan maritim tidak hanya terbatas pada kegiatan ekonomi, tetapi juga mencakup dimensi strategis dan keamanan.