Menuju 2045, pertumbuhan penduduk perkotaan diperkirakan terus meningkatkan kebutuhan layanan transportasi yang aman, nyaman, terjangkau, dan terintegrasi.
Perkembangan wilayah metropolitan Indonesia membutuhkan sistem angkutan umum yang mampu melayani mobilitas masyarakat tanpa memperbesar ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Seoul dapat memberikan pelajaran penting mengenai pengelolaan transportasi perkotaan.
Integrasi tarif, kartu pembayaran yang dapat digunakan pada berbagai moda, pengembangan jalur bus prioritas, serta kemudahan perpindahan antarlayanan menjadi bagian dari sistem yang dapat dipelajari.
Namun, keberhasilan pengembangan transportasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas kendaraan dan pembangunan infrastruktur.
Integrasi layanan, ketepatan jadwal, kemudahan akses, serta keterjangkauan tarif juga harus menjadi perhatian utama.
Dalam konteks ini, Indonesia berpeluang mengembangkan kolaborasi dengan Korea Selatan untuk memperkuat sistem angkutan massal perkotaan.
Peluang tersebut semakin relevan dengan perkembangan industri kendaraan listrik.
Presiden Lee Jae Myung juga menyinggung kerja sama pengembangan kendaraan listrik Indonesia bersama perusahaan Korea sebagai salah satu contoh hubungan industri kedua negara.
Dengan sumber daya nikel yang dimiliki Indonesia dan kerja sama mineral kritis yang telah disepakati, kedua negara memiliki peluang memperkuat pengembangan ekosistem baterai serta kendaraan listrik.